Teka-teki Aegiceras dan Avicennia di Australia
Siang itu, di akhir November 2007, aku (Abdullah Habibi) diajak teman membantu mengambil sampel larva ikan dengan plankton net di daerah Sungai Richmond, Broadwater, Australia. Selesai membantu memasang plankton net, aku menunggu temanku menyiapkan boat sambil duduk di pinggiran sungai. Iseng memandangi kawasan sekitar yang masih alami, mataku melihat kilauan terang dari atas dedaunan yang hidup di dekatku. Penasaran, aku datangi daun itu untuk melihat lebih dekat.
Dalam jarak yang lebih dekat, kulihat dengan jelas ada kristal-kristal kecil yang berkilauan di atas dedaunan. Awalnya aku sama sekali tidak terpikir untuk mengkaitkan kristal ini dengan mekanisme sekresi garam oleh mangrove, mengingat informasi dari temanku bahwa daerah ini adalah kawasan sungai yang jauh dari muara sungai dimana mangrove banyak tumbuh. Akan tetapi bentuk daunnya yang mengingatkanku pada bentuk daun Aegiceras, salah satu genus mangrove, membuatku penasaran. Akhirnya aku coba jilat kristal diatas daun-daun itu. ASIN!!! Tak salah lagi, ini kristal garam dari Aegiceras!
Mencoba mengingat salah satu pelajaran dari KeSEMaT, mengenai habitat hidup mangrove di daerah air payau, membuatku tidak berhenti hanya dengan mengetahui kristal garam di atas daun dan morfologi daun. Ketika kucoba mencecap rasa air sungai, tidak ada yang aneh, rasa air biasa cuma warnanya saja yang sedikit coklat keruh. Berarti kalau misalnya air tidak payau, pasti ada sesuatu yang luar biasa yang belum aku ketahui. Kulihat sekitar, ada banyak biji Avicennia yang sudah mulai keluar pucuk daunnya tersebar di pinggiran sungai. Aku semakin heran, bijinya ada, kok pohonnya tidak ada, ya? Dimana gerangan pohon yang menghasilkan biji-biji ini?
Pertanyaan itu akhirnya terjawab ketika riset dimulai. Boat melaju menuju muara sungai, sekitar satu kilometer dari tempat berangkat aku melihat ada rerimbunan vegetasi Avicennia yang sedang berbuah! Keberadaan vegetasi Avicennia itu tidak hanya menjawab dimana sumber biji berasal, tetapi juga menjawab kenapa ada Aegiceras di pinggiran sungai yang mengeluarkan kristal garam meskipun airnya tidak berasa payau. Keberadaan vegetasi Avicennia lebih dekat ke muara dengan biji yang ditemukan lebih ke arah hulu sungai, menyiratkan kemungkinan adanya pengaruh pasang surut yang membawa massa air dengan salinitas diatas normal dari air sungai biasa.
Aku coba buka website http://maps.google.com.au, dan aku temukan lokasi Broadwater disana. Jika dihitung dari jarak lokasi Broadwater ke arah laut, hanya sekitar 4 km. Akan tetapi jika dihitung dari ujung muara sungai ke arah Broadwater, akan terukur jarak sekitar 23 km! Satu jarak yang sangat jauh untuk bisa membawa massa air dengan salinitas tinggi ke hulu sungai. WOW!!!
Selama ini, aku hanya berkutat dengan melihat mangrove di sebelah utara pulau Jawa yang kebanyakan habitatnya berada di muara sungai. Di sini, aku bertemu dengan mangrove yang hidup dan dihubungkan dengan satu aliran sungai sejauh 23 km dari muaranya. Bagaimana dengan mangrove di Kalimantan Timur? Bagaimana dengan mangrove di Papua? Bagaimana kalau misalnya habitatmu tidak dirusak oleh manusia. Seberapa jauhkah kau bisa hidup di pinggiran sungai ke arah hulu? Mangrove, kau mengejutkanku!







kalo menurut saya sih gampang aja, ngak perduli itu jauh atau dekat dengan muara sungai, pada dasarnya yang namanya air yang bersalinitas akan cenderung berada dilapisan bawah dibanding air yang tanpa salinitas, ini karena berat jenisnya yang berbeda sehingga mengakibatkan pelapisan. saya tidak begitu heran ketika melihat penjelasan awal dan latar belakang lokasi yang digambarkan menurut saya sekali lagi itu sangat biasa. Pelapisan tidak hanya terjadi diperairan muara saja tetapi dapat mencapi daerah hulu selama daya dorong dan tekanan pasut masih terjadi. mengenai jarak yang berpuluh puluh kilo itu, juga dapat dijelaskan, selama akar mangrove masih menembus lapisan sedimen dibawahnya maka akar akan menangkap lapisan bersalinitas dari substrat tempat tumbuhnya, sehingga anomali dari lingkungan yang tidak biasanya itu menyebabkan jenis mengrove tersebut mengekresikan garam dipermukaan daunnya. akan sangat berbeda jika mangrove yang dimaksudkan tersebut memang tumbuh didaerah yang tidak bersalinitas sama sekali dan tetntu saja respon fisiologisnya akan berbeda. tidak hanya respon fisiologis, lingkungan yang berbeda juga akan menyebabkan morfologinya akan berbeda terutama pada kemampuan eksresi daun dan bentuk perakaran.
saya sama sekali tidak bermaksud menanggapi mudah kasus tersebut karena saya sendiri memiliki kasus yang serupa namun tak sama dengan yang saudara paparkan, secara ringkas dapat saya gambarkan sebagi berikut:
daerah tempat tinggal saya berjarak kurang lebih 1 km dari dari pantai dan untuk jarak tersebut masih sangat lumrah bagi tumbuhnya mangrove terutama jika masih terdapat aliran sungai dan pengaruh pasang surut di daerah tersebut. tapi yang ingin saya jelaskan adalah bahwa dikaki gunung beberapa kilo meter dari tempat tinggal saya terdapat komunitas magrove dengan spesies yang sama dengan yang tumbuh didaerah estuari (Rhizophora apiculata) pada hal ketinggian lokasinya sangat tidak memungkinkan bagi air laut atau air bersalinitas untuk sampai kesana terlebih daerah tersebut tidak terdapat aliran sungai sama sekali. melihat adanya keganjilan terhadap lokasi tumbuh mangrove tersebut, maka saya juga tertarik untuk lebih memperhatikan detail fisiologisnya dan morphologinya, secara fisiologis kemampuan eksresi daun mangrove yang tumbuh di kaki gunung sangat sedikit bahkan tidak ada sama sekali, saya menduga ini disebabkan karena daun tidak membutuhkan proses eksresi garam tersebut untuk menjaga keseimbangan osmosis dalam proses fisiologisnya sehingga kebiasaan yang sama tidak dijumpai pada komunitas yang tumbuh dikaki gunung ini. kedua, bentuk morphologi terutama stomathophoranya hampir tidak berfungsi dan perakarannya tidak ditumbuhi akar nafas untuk adaptasi pernafasannya. dan usut punya usut ternyata 23 meter dari permukaan tanah terdapat air yang bersalinitas hampir sama dengan payau yaitu sekitar 5 ppm.
Membahas kasus yang saya jumpai ini mengingatkan pada kasus yang anda jumpai sehingga menggerakkan hati saya untuk sedikit memberi penjelasan yang sederhana terhadap kasus yang anda jumpai di Australia. Kira -kira seperti itulah yang dapat saya tanggapi dari kasus tersebut.
Sebenarnya tujuan utama saya adalah ingin mengetahui hasil sampling larva yang dilakukan oleh teman saudara pada saat itu, tetapi karena ternyata saudara lebih tertarik menceritakan eksperience dari temua magrove maka saya juga jadi tergerak untuk menanggapi. Oh Iya, dapatkah saya memperoleh email dari teman anda yang melakukan riset tentang larva tersebut? saya akan senang jika saya dapat berdiskusi lebih lanjut tentang larva yang terdapat didaerah samplingnya (tempat anda menjumpai kasus tersebut) saat ini saya juga sedang mendalami Riset tentang larva ikan yang ada di pesisir selatan Jawa siapa tau dengan mengetahui kontak person/email dari teman anda, saya akan mendapat banyak masukan dan referensi untuk penulisan Thesis saya.. dan saya ucapkan terima kasih sebelumnya.
salam kenal.
mila
Satu penjelasan yang sangat menarik, terimakasih banyak atas uraiannya. Memang benar, berat jenis pada air bersalinitas mengakibatkan posisinya berada di bawah air yang lebih tawar, sehingga ketika air sungai dicecap tidak terasa asin. Anda benar juga mengenai adanya adaptasi fisiologis dan morfologi mangrove ketika dia tidak berada di lingkungan “yang seharusnya” dia berada.
Saya jadi ingat ketika berjalan-jalan di Kebun Raya Bogor, saya menjumpai adanya pohon Sonneratia di tanah yang keras dan kering. Karena tidak berada di habitat alaminya, pohon ini tumbuh dengan kurang sehat. Waktu itu (sekitar Maret 2005), saya hanya melihat dua pneumatophora kecil menyembul dari dalam tanah dan tidak ada mekanisme sekresi garam terjadi. Saya sangat tertarik dengan adanya mangrove di kaki gunung sebagaimana yang anda jelaskan. Untuk pembelajaran bersama, bolehkah saya tahu di kaki gunung manakah mangrove yang anda ceritakan tersebut berada?
Mengenai sampling larva ikan, silahkan menghubungi Daniel Bucher [dbucher@scu.edu.au] sebagai research coordinator pada proyek kemarin. Semoga bermanfaat untuk thesis-nya
Salam kenal juga
Habib