Pemalang – KeSEMaTWORDPRESS. Kota Pemalang merupakan salah satu kota yang terletak di daerah pesisir utara Jawa yang langsung berhubungan dengan laut. Pada tahun 80-an, Pemalang termasuk kedalam salah satu kota di Indonesia yang mendapatkan kebijakan dari pemerintah pusat untuk direhabilitasi daerah mangrovenya. Kondisi mangrove di Pemalang termasuk yang masih baik di pesisir utara Jawa, hal tersebut tidak lepas dari peranan masyarakatnya yang sudah mulai sadar akan arti pentingnya mangrove untuk daerah pesisir dan sebagai penunjang kualitas ikan pada tambaknya.
Read more…
Jepara – KeSEMaTWORDPRESS. Mengingat di Penyetan (baca: nasi penyet adalah nasi plus sambal yang disantap dengan beraneka lauk seperti tempe, ikan, ayam, dan lain-lain. Makanan ini sangat populer di Semarang, terutama di lokasi sekitar Kampus Universitas Diponegoro – UNDIP), tidak ada sabun untuk cuci tangan, maka dua orang KeSEMaTER, yaitu Sdr. Tangguh Gilang P. W. dan Sdri. Lady Yunia R., beserta beberapa orang rekannya, para mahasiswa Jurusan Ilmu Kelautan UNDIP di Jepara, berinisiatif untuk membuat sabun-cuci-tangan dengan bahan dasar buah mangrove. Sabun ini dibuat tanpa menggunakan surfaktan, karena surfaktan terbukti dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, yaitu pencemaran buih. Sabun yang dibuat ini adalah sabun mangrove berbahan minyak kelapa sawit, minyak kelapa, minyak zaitun, KOH, fragrance, pewarna dan buah Avicennia marina. Penasaran ingin membuatnya? Silahkan ikuti langkah-langkah berikut ini:
Read more…
Sesuai dengan motonya, yaitu konservasi, penelitian, pendidikan dan dokumentasi mangrove, KeSEMaT telah bekerja dalam ruang lingkup-program yang berdasarkan pada keempat motonya tersebut. Berbagai program mangrove telah berhasil digulirkan di berbagai daerah di pesisir Pantai Utara Pulau Jawa yang memang mengalami tingkat abrasi yang sangat tinggi, seperti di Rembang, Jepara, Demak dan Semarang. Dua daerah, yaitu Jepara dan Semarang, sengaja ditetapkan oleh KeSEMaT sebagai dua lokasi yang membutuhkan perhatian dan penanganan khusus. Untuk itulah, sejak tahun 2003 (Jepara) dan mulai tahun 2006 (Semarang), kedua kabupaten ini, menjadi “area-kerja-resmi” KeSEMaT dalam mengimplementasikan berbagai program mangrovenya. Jepara dan Semarang dipilih, karena di kedua lokasi inilah, ekosistem mangrove mengalami tekanan lahan yang sangat hebat.
Read more…
KeSEMaT in collaboration with D. Dimas Hokka Pratama Soebekti (The Youngest English Lecturer of Indonesia – MURI Record), student of SMA Theresiana 01 Semarang had conducted mangrove research at Ujung Piring Jepara. This research has title “The Study Of Mangrove Ecosystem in Ujung Piring Jepara and Its Correlation With The Planned Power Plant. It was important mangrove research. Let’s check this out!
Read more…
Foto sebelah kiri ini adalah foto suasana Mangrove REpLaNT (MR) 2005 KeSEMaT, yang berlokasi di belakang asrama mahasiswa Ilmu Kelautan UNDIP Teluk Awur Jepara. Sedangkan foto di sebelah kanannya adalah kondisi lokasi tersebut setelah satu tahun kemudian, pada saat KeSEMaT melakukan pengecekan ke sana. Kita bahas foto yang pertama. Kalau Anda cermati, di foto pertama tampak para peserta MR yang sebagian besar adalah mahasiswa tersebut sedang melakukan penanaman mangrove di substrat yang tergenangi air.
Read more…
Kerang yang terlihat di samping ini adalah jenis Polymesoda erosa. Kerang yang dulunya tidak pernah ditemukan di vegetasi mangrove Teluk Awur Jepara ini, sekarang mulai marak dijumpai di sana. Spesies ini, baru sekitar satu tahunan mendiami Arboretum KeSEMaT. Awalnya, biota mangrove ini didatangkan oleh beberapa mahasiswa dan dosen, Ilmu Kelautan UNDIP dari Cilacap untuk diadakan penelitian terhadapnya.
Read more…
Komentar