Deky Rahma Sukarno. Kelimpahan Polychaeta pada Vegetasi Mangrove Desa Jambu, Kecamatan Mlonggo, Kabupaten Jepara.
Kawasan hutan mangrove mempunyai kesuburan perairan yang tinggi, karena pada ekosistem ini banyak dihasilkan bahan organik dan nutrien-nutrien penting dari hasil penguraian serasah yang dihasilkan oleh tumbuhan mangrove. Tingginya produktifitas hutan mangrove menjadikan daerah ini sebagai habitat yang baik bagi berbagai jenis biota, termasuk juga makrobentos seperti gastropoda, crustacea dan polychaeta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan polychaeta pada dominansi tegakan mangrove Rhizophora dan Sonneratia daerah vegetasi mangrove Desa Jambu, Kecamatan Mlonggo, Jepara. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 5 April – 4 Mei 2003.
Read more…
Aris Priyono. Studi Kelimpahan Kepiting di Vegetasi Mangrove Pantai Teluk Awur Jepara.
Informasi keberadaan kepiting yang berasosiasi dengan mangrove di vegetasi mangrove Pantai Teluk Awur Jepara belum banyak diketahui sebagai akibat dari penelitian yang belum pernah dilakukan.
Read more…
Ragil Yuniarto. Studi Kelimpahan Gastropoda pada Vegetasi Mangrove Teluk Awur, Jepara.
Penelitian mengenai karakteristik biologis vegetasi mangrove desa Teluk Awur Jepara khususnya komunitas Gastropoda masih jarang dilakukan. Mengingat kondisi vegetasi mangrove pada lokasi penelitian yang rawan akan degradasi maka sangatlah menarik bila dilakukan penelitian tentang Gastropoda yang berasosiasi didalamnya. Ini diperlukan sebagai informasi awal dalam rencana pengelolaan kawasan secara terpadu Desa Teluk Awur, Jepara.
Read more…
Akhiran Adi Jayanto. Studi Kelimpahan Alpheus spp di Vegetasi Mangrove Teluk Awur Jepara.
Hutan mangrove mempunyai arti sangat penting bagi ekosistem perairan. Secara ekologis, berbagai jenis hewan sangat tergantung akan keberadaan hutan mangrove. Sejumlah besar hewan-hewan air seperti udang bakau, kepiting, moluska dan invertebrata lainnya yang hidupnya menetap di kawasan hutan. Alpheus ditemukan bersembunyi di dalam lumpur, dibalik akar mangrove dan ada pula yang tinggal di balik pecahan karang. Hutan mangrove berfungsi sebagai tempat perlindungan, berkembang biak, dan mencari makan.
Read more…
Yusuf Fajariyanto. Studi Kepadatan Perifiton pada Akar dan Batang Mangrove di Vegetasi Mangrove Muara Sungai Ijo Bodo Kebumen.
Sistem perakaran mangrove menyediakan substrat untuk menempel bagi perifiton seperti diatom dan alga hijau biru. Perifiton mempunyai peranan yang sangat penting dalam jaring-jaring makanan di komunitas mangrove. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kepadatan perifiton yang menempel pada akar dan batang mangrove di vegetasi mangrove muara Sungai Ijo Bodo Kebumen.
Read more…
Akhmad Setiawan. Struktur dan Komposisi Vegetasi Mangrove di Pulau Ajkwa dan Kamora, Kabupaten Mimika, Papua.
Komunitas mangrove menempati area diantara darat dan laut yang memiliki kondisi lingkingan berbeda satu sama lain, hal tersebut menarik untuk dipelajari, khususnya mengenai struktur dan komposisinya. Komunitas mangrove di Papua antara lain terletak di Pulau Ajkwa dan Kamora. Pulau Ajkwa merupakan area yang terkena dampak limbah pertambangan (sedimen tailing) dan Pulau Kamora tidak. Tujuan penelitian ini adlah untuk mengetahui sruktur dan komposisi pada kedua lokasi tersebut, oleh karena itu dilakukan studi ini pada bulan Juni – Agustus 2000.
Read more…
Ari Bangun Sutaji. Studi Pemangsaan Propagul Rhizophora stylosa Griff., Rhizophora mucronata Lamk., dan Avicennia alba Blume di Vegetasi Mangrove Desa Tanggul Tlare, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara.
Kerusakan propagul mangrove seringkali menjadi sebab kegagalan propagul untuk tumbuh menjadi individu baru (seedling). Kerusakan akibat pemangsaan oleh predator dapat terjadi saat propagul masih tergantung pada pohon induk atau pra penyebaran (pre-dispersal) maupun setelah terlepas dan jatuh dari pohon induk atau paska -penyebaran (post-dispersal).
Read more…
Abdullah Habibi. Identifikasi Vegetasi Mangrove dan Tingkat Pemangsaan Propagulnya di Taman Nasional Karimunjawa Jepara Jawa Tengah.
Komunitas mangrove sebagai bagian dari ekosistem pesisir memiliki fungsi penting secara fisik, ekologis maupun ekonomis. Konversi areal mangrove menjadi wilayah pertambakan dan pemukiman menyebabkan terjadinya penurunan luasan serta tingkat kerapatannya, sehingga perlu dilakukan rehabilitasi sebagai salah satu bentuk pengelolaan agar dapat didayagunakan secara lestari. Upaya rehabilitasi ekosistem mangrove diutamakan dilakukan dengan menggunakan bibit dari jenis mangrove yang terdapat pada kawasan itu sendiri. Bibit untuk upaya rehabilitasi ini, diutamakan dipilih yang masih baik dan tidak rusak, karena kerusakan yang terjadi pada bibit mangrove seringkali menjadi sebab kegagalan propagul untuk tumbuh menjadi individu baru (seedling). Kerusakan akibat pemangsaan oleh predator dapat terjadi saat propagul masih menempel pada pohon induk atau pra-penyebaran (pre-dispersal) maupun setelah terlepas dan jatuh dari pohon induk atau paska-penyebaran (post-dispersal).
Read more…
Komentar