KeSEMaT keluar Jepara? Boleh saja, tapi…

Banyak pertanyaan yang diajukan kepada KeSEMaT, mengapa selama ini kegiatan konservasi mangrovenya selalu berkutat di Jepara. Kenapa KeSEMaT tidak mencoba untuk menerapkan program-program mangrove-nya semisal Mangrove REpLaNT (MR) ke daerah lainnya. KeSEMaT keluar dari Jepara? Boleh-boleh saja, tapi kami sepertinya tidak mau gegabah.Lha wong di Jepara itu, yang notabene adalah tempat kami lahir, besar dan tinggal, abrasinya sangat parah, kok. Bahkan paling parah apabila dibandingkan dengan daerah-daerah lain di pesisir utara Jawa (lihatlah foto disamping ini. Inilah pantai Teluk Awur itu.

Disinilah kami bekerja. Sekali lagi lihatlah, betapa abrasi begitu tak terkendali). Masa, kami harus keluar dan mengelola daerah-daerah lainnya. Untuk apa kami keluar dari Jepara? Tempat tinggal kami masih sangat membutuhkan kami. Penanganan abrasi pantai di Jepara belum beres. Mangrovenya masih banyak yang rusak. Kalau kami belum bisa menghijaukan daerah kami sendiri, nggak tega dan nggak etis rasanya untuk mengurusi mangrove di daerah lainnya. Walaupun bisa dan mungkin, secara moral kami belum siap dan mau.

Namun demikian, kemungkinan KeSEMaT keluar dari Jepara sangat mungkin. Sebenarnya, dalam hati kecil kami, kami sangat ingin menerapkan konsep MR ini ke berbagai daerah di luar Jepara. Namun karena ada banyak kendala teknis dan non teknis, impian kami sampai sekarang belum bisa terwujud.

Salah satu kendala yang sangat mengganjal adalah, kami belum bertemu dengan organisasi/instansi yang cocok yang mau menerapkan MR dengan pola 7P (pembuatan bedeng, penyuluhan, pembibitan, penanaman, penyulaman, perawatan dan pemeliharaan). Kebanyakan organisasi yang bertemu dengan kami hanya mau mengikuti salah satu atau salah dua saja dari 7 persyaratan yang kami ajukan.

Saat ini, beberapa organisasi dan instansi memang mulai melirik KeSEMaT, untuk mau membantu mereka dalam menerapkan konsep MR, di lokasinya masing-masing (luar Jepara). Menurut mereka, konsep MR dengan 7P-nya sebagai sebuah pilot project rehabilitasi mangrove di lahan gundul, terbukti berhasil.

Mereka ingin bekerjasama untuk menerapkan konsep serupa di lokasinya masing-masing. Namun sampai tulisan ini saya buat, hal ini belum bisa terealisasi. Salah satu penyebabnya adalah tak adanya jaminan perawatan bibit mangrove, setelah penanaman mangrove selesai dilakukan. Inilah yang membuat kami khawatir.

Padahal dalam konsep MR, perawatan dan pemeliharaan bibit mangrove adalah hal yang paling penting diantara 7P tadi. Tidak jelasnya perawatan dan pemeliharaan bibit mangrove inilah yang membuat KeSEMaT ogah bekerjasama dengan pihak luar sehingga belum bisa keluar dari Jepara.

Andaikan saja ada pihak di luar Jepara, yang bisa menerapkan konsep MR 7P ini dengan baik, KeSEMaT dengan senang hati mau membantu. Dengan demikian, impian KeSEMaT untuk merehabilitasi kawasan mangrove di luar Jepara bisa terwujud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s