Kisah cinta Epi dan Ceri

Pertama kali melihat keindahan bunganya, Epi tak kuasa untuk tidak mengungkapkan rasa cintanya pada Ceri, “Aku mungkin sudah gila, Cer. Tapi aku tak bisa menyembunyikan rasa sayangku padamu. Aku begitu mencintaimu! Maukah engkau menjadi kekasihku. Maukah engkau menikah denganku? Engkau tak perlu menjawabnya sekarang. Pikirkanlah. Aku tunggu hingga satu purnama.”

Ceri kelabakan. Dia sudah tahu, perasaan Epi sejak lama. Epi begitu menyayanginya. Saat teman-teman Epi berniat mengganggu bahkan membunuh dirinya, Epi selalu melindunginya. Calon kekasihnya itu telah menunjukkan kasihnya yang tulus pada dirinya.

Namun, kenyataan bahwa mereka berdua adalah insan yang berlainan spesies, membuatnya sanksi, apakah cinta suci mereka bisa terus berjalan hingga akhir hayat. Mana mungkin terjadi? Epi adalah seekor kepiting, sedangkan dirinya hanyalah sebuah pohon mangrove muda yang sedang tumbuh!

“Dewata tak akan meluluskan permintaanmu, Cer. Setulus apapun cinta kalian, kalian berdua tak bisa bersatu. Kamu dan Epi berasal dari dua dunia yang berbeda. Dari dua spesies yang tidak sama. Kalian tak mungkin dipersatukan. Jika saja suatu saat Epi memintamu menjadi kekasihmu, tolaklah dengan halus. Kalau dia bersikukuh, carilah cara agar penolakanmu tak sampai menyakiti hatinya. Kamu harus mencari kekasih dari spesiesmu sendiri.”

Wejangan sang nenek masih begitu membekas di benaknya. Sebelum tewas ditebang manusia, beliau banyak memberikan petuah kepadanya. Ceri sadar, semua nasehat yang diberikan neneknya adalah benar. Dia tak mungkin mengingkari takdir. Masing-masing spesies makhluk di bumi ini, hanya akan berpasangan dengan spesiesnya sendiri. Itulah garis hidup yang memang sudah digariskan oleh sang Dewata.

“Aku tak mungkin menjadi kekasihmu, Pi. Kita berasal dari dua dunia yang berbeda. Aku tumbuhan dan engkau binatang. Kita tak mungkin bersatu. Aku tak mau mengingkari takdir.”

“Aku tak peduli, Cer. Kamu harus menjadi kekasihku. Aku bersumpah demi langit dan bumi, akan memperistri kamu. Aku ingin engkau mendampingi hidupku, sampai ajal menjemput. Aku sadar ini tidak mudah, tapi aku yakin, Dewata nan Agung pasti akan mengabulkan permintaan kita.”

Mendengar tekad Epi yang begitu menggebu, Ceri gusar. Dia tak bisa menyembunyikan perasannya, bahwa batapa dalamnya cintanya kepada kepiting mangrove itu. Sikapnya yang sopan, baik dan selalu melindungi dirinya, telah berhasil meluluhkan kebekuan hatinya. Epi begitu mencuri hatinya. Tapi dia tak kuasa! Dia tak mungkin menerima cinta Epi. Mereka berdua terhalang takdir.

Hari berganti hari hingga satu purnama berlalu. Besok adalah batas akhir yang ditetapkan Epi. Tapi Ceri belum menemukan jawaban yang pas untuk Epi. Dia memang mencintai Epi, tapi dia tak mau menyalahi takdir.

Setelah banyak berunding dengan sesepuh mangrove dan teman-teman dekatnya, Ceri memberanikan diri membuat keputusan. Besok pagi, saat matahari terbit di sela-sela dedaunan mangrove, dia akan memberikan jawabannya. Dia tak mau menyakiti hati Epi, namun dia juga tak mau kehilangan Epi. Dia mau menolak cinta Epi dengan halus. Ceri berharap, semoga jawabannya bisa memuaskan hati Epi dan bukan membuatnya sakit hati.

Ceri sudah tak sabar menunggu kedatangan Epi. Namun begitu kepiting itu muncul, dia malah ragu untuk mengutarakan jawabannya. Beberapa saat suasana menjadi sangat hening. Mata Epi yang begitu tajam menatap ke arahnya seolah meminta Ceri untuk segera berbicara.

Akhirnya Ceri berkata, “Aku mau menjadi kekasihmu asalkan kamu bisa memenuhi perrmintaanku.”
“Apa permintaanmu, Ceri. Semua pintamu pasti aku penuhi!” jawab Epi penasaran.
“Aku mau kau penuhi dua syarat dariku.”
“Ya. Apakah syarat-syarat itu. Sebutkan saja.”
“Syarat pertama, aku mau spesiesmu tak memangsa dan memakan propagul kami yang baru tumbuh. Syarat kedua, aku mau kamu dan seribu ekor teman-temanmu, menanam propagul sebagai ganti atas seribu propagul kami yang tewas dimangsa oleh spesiesmu. Buatkan aku kebun bibit Ceriops. Aku akan menunggu hasilnya dalam satu purnama.”

Walaupun berat, namun Epi bertekad untuk mengabulkan permintaan Ceri. Pagi itu juga, dia segera mengumpulkan seribu ekor kepiting di lumpur mangrove yang lapang dan menjelaskan permintaan Ceri. Awalnya banyak kepiting yang tak setuju dengan ajakan Epi. Namun setelah melalui banyak perundingan, akhirnya keseribu temannya itu mau juga mengabulkan permintaannya bahkan bersedia membantunya merebut pujaan hatinya itu.

Bulan ini adalah bulan Agustus, waktunya buah-buah Ceriops berjatuhan dan siap tumbuh menjadi mangrove muda. Dengan suka cita, para kepiting menangkap jatuhan buah itu, mengumpulkannya dan kemudian menanamnya ke lumpur-lumpur mangrove yang lembek dan basah. Mereka menanamnya dengan sangat hati-hati. Mereka tak mau satu propagulpun yang tumbang. Kalau terjadi demikian, sia-sialah usaha mereka dalam membantu Epi mewujudkan impiannya menjadi kekasih Ceri. Memang Ceri mensyaratkan seribu propagul itu tumbuh semua dan tak boleh ada yang mati satu buahpun.

Waktu berjalan begitu cepat. Kini setengah purnama berlalu. Propagul Ceriops tumbuh subur menjadi bibit-bibit mangrove. Seribu buah Ceriops, telah berubah menjadi seribu bibit Ceriops, dan tak ada satupun yang mati. Epi sangat ketat mengawasi dan memelihara kebun bibitnya itu. Walaupun sering mendapat gangguan dari kepiting yang tak setuju dengan tujuannya, Epi tetap sabar dana tabah melindungi kebun bibitnya dengan dibantu oleh seribu ekor teman-teman kepitingnya yang sepaham dengan dia.

Memang, beberapa ekor kepiting mulai mencuri-curi kesempatan untuk bisa memakan bibit-bibit Ceriops yang manis dan lezat. Menurut mereka, Epi dan teman-temannya yang sepaham dengan dia, telah menghalangi mereka untuk bisa mencicipi makanan pokok kepiting.

Sebenarnya Epi sadar. Dia telah berbuat tidak baik dengan spesiesnya sendiri karena tidak memperbolehkan teman-temannya untuk merasakan nikmatnya mencicipi makanan mereka. Tapi demi cintanya kepada Ceri, semua itu dikorbankannya. Dari awal dia telah berjanji akan menanggung segala resiko yang terjadi akibat tekadnya ini.

Satu purnama berlalu. Pagi ini, Epi sudah menunggu di bawah rimbunnya daun Rhizophora untuk melaporkan hasil kerjanya. Dia merasa puas, karena walaupun banyak gangguan dan hambatan, akhirnya dia berhasil menumbuhkan seribu bibit Ceriops bersama dengan seribu ekor kepiting, temannya. Kebun bibit Ceriops-nya berhasil tumbuh dengan baik.

Melihat hasil kerja Epi, Ceri ketakutan. Usahanya untuk membendung cinta Epi seolah termentahkan. Kini dia tak bisa lagi mengelak untuk tidak bersedia dijadikan istri oleh kepiting itu. Ceri berdoa, “Ya Dewata, tolonglah hamba. Hamba tak tahu lagi bagaimana cara hamba untuk bisa menolak cinta Epi,” Ceri terisak kemudian melanjutkan doanya, “Hamba begitu mencintainya dan tak bisa hidup tanpanya.”

Sepertinya Dewata mendengar keluh kesah Ceri. Dewa kasihan mendengar keluh kesah Ceri. Dewa juga terharu, melihat kesungguhan Epi dalam merawat mangrove demi mendapatkan cinta Ceri. Akhirnya, Dewa merubah Epi menjadi mangrove. Setelah itu, dua kekasih itu menikah dan hidup bahagia selamanya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s