Kisah Rhizophora, Si Lengan Gurita yang selalu teraniaya

Malang benar nasib Rhizophora, sejak dilahirkan di bumi ini, dia sudah dikucilkan oleh teman-temannya. Bentuk tubuhnya yang buruk rupa dan tak sempurna, selalu saja jadi bahan ejekan dan hinaan. “Kamu bukan bagian dari kami. Akar kamu seperti gurita. Kami jijik mendekatimu. Kamu tak boleh dekat-dekat dan bermain bersama kami. Kamu seperti monster. Kami takut padamu. Kamu dan keluargamu adalah spesies mangrove yang tak berguna!” begitulah cacian yang diterima Rhizo, hampir setiap hari di kehidupannya.

Hampir setiap hari, Rhizo tersedu sedan, mengadukan nasibnya ke orang tuanya. Bahkan dia tak mau bermain dengan teman-temannya karena tak kuat lagi mendengar ejekan dan makian itu.

“Aku tak mau main dengan mereka lagi, Bu. Aku selalu dimaki. Kata mereka akarku yang banyak ini, seperti lengan gurita. Seperti monster. Aku malu dengan bentuk badanku ini, Bu. Aku malu.”

Ibu Rhizophora hanya tersenyum mendengar curahan hati anak laki-laki semata wayangnya itu. Sambil terus membelai akar putranya, dia berkata, “Anakku Rhizo, jangan diambil hati ejekan dan hinaan teman-temanmu itu. Mereka hanya tidak sadar bahwa suatu saat nanti, akar-akarmu ini akan sangat berguna dan bermanfaat bagi kita, hewan bahkan manusia.”

“Tapi Ibu, mereka berkata kita ini spesies mangrove yang tak berguna,” jawab Rhizo sedikit emosi.

“Anakku, Dewata tak pernah menciptakan makhluk yang tak berguna. Semua yang diciptakan oleh-Nya di muka bumi ini, bermanfaat. Setiap makhluk hidup, punya manfaat dan takdirnya sendiri. Jadi, kita tidak boleh saling iri dan memaki satu sama lain. Sebaliknya, kita harus saling menyayangi, menghargai dan menghormati satu sama lain.”

Belum selesai Sang Ibu memberikan petuahnya, Rhizo sudah tertidur pulas di pangkuannya. Sang Ibu tersenyum sembari melanjutkan kalimatnya, “Ah, Rhizo. Kamu masih kecil. Andaikan kamu tahu, spesies kita memang sudah dari dulu dihina seperti ini. Bukan dihina saja, kita sering dimaki, ditebangi dan dibunuh oleh spesies manusia, demi mengejar ambisi sesaat mereka tanpa memikirkan efek jangka panjangnya terhadap spesies kita. Manusia tak memikirkan bagaimana seandainya spesies kita punah. Kita dianggap spesies yang tak berguna. Padahal kayu-kayu kita banyak digunakan untuk membuat rumah-rumah mereka. Mereka tak tahu balas budi. Mereka tak mau menanam kita lagi, supaya kita bisa beregenerasi,” seraya berlinang air mata, Ibu Rhizophora melanjutkan perkataanya, “Tapi Ibu tahu, suatu saat Dewata yang Maha Adil akan menunjukkan kekuasaan atas ciptaan-Nya. Dan Dewata akan membalas perilaku manusia dan siapa saja yang menganggu spesies kita. Dan anakku, suatu saat kamu juga pasti akan mengerti, mengapa kita diciptakan memiliki akar gurita seperti ini. Tunggu saja.”

Hari berganti hari dan waktu begitu cepat berlalu. Kini Rhizophora tumbuh besar dan kuat. Akarnya yang dulu hanya beberapa buah saja, kini semakin banyak tumbuh hingga mencapai ratusan. Akar-akar itu menancap kuat di tanah mangrove yang lembab. Walaupun Ibunya berkali-kali menghibur dirinya dengan berkata bahwa dia sangat gagah dengan akar guritanya itu tapi dia tetap saja tidak percaya diri bahkan selalu menyesali takdirnya.

“Ya Dewata, sekali lagi aku meminta, hilangkanlah ratusan akar guritaku ini. Akar-akar ini membuatku semakin buruk rupa. Aku hanya ingin memiliki satu akar saja, agar teman-temanku tak lagi menganggapku sebagai monster.”

Di tempatnya bersemayam, Dewata mendengar keluh kesah Rhizo. Dia menyesali sikap Rhizo yang tak menyukai takdirnya bahkan tak mensyukuri dengan apa yang telah diberikan oleh Dewata padanya. Dewata ingin memberikan pelajaran yang berharga padanya, agar Rhizo sadar betapa pentingnya akar-akar yang selama ini dianggapnya jelek dan tak berguna itu.

Akhirnya, Dewata memberikan pelajaran kepada Rhizo. Keesokan harinya, gelombang dasyat bernama tsunami datang menggempur wilayah mangrovenya. Gelombang yang berkekuatan maha dahsyat itu datang secara tiba-tiba, menghantam apa saja yang dilaluinya, tak terkecuali Rhizophora dan keluarganya. Sekuat tenaga Rhizo dan keluarganya mencoba bertahan hidup dan menghadapi terjangan gelombang dahsyat setinggi 30 meter yang meluluhlantakkan hampir semua sudut areal tersebut. Ribuan nyawa manusia, hewan dan tumbuhan tewas tersapu gelombang tsunami.

Tsunami datang hanya beberapa jam, namun efeknya sangat luar biasa. Rhizophora dan keluarganya yang ternyata selamat, harus menahan perih akibat luka-luka yang dideritanya. Sambil bersyukur atas keselamatannya, dia mencoba melihat sekelilingnya. Dia heran rumah-rumah manusia, komunitas hewan dan tumbuhan yang berada dibelakangnya semuanya selamat, aman dari kerusakan. Bahkan beberapa saat setelah tsunami, manusia, hewan dan tumbuhan berbondong-bondong datang menemuinya sembari mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas perlindungan yang diberikan Rhizo dan keluarganya terhadap mereka.

Mereka berkata, “Kami manusia, hewan dan tumbuhan sangat berterima kasih kepadamu Rhizo. Karena akar-akar guritamu itu telah melindungi kami dari gelombang tsunami sehingga saat menerpa kami, gelombang itu tak terlalu kuat. Akar-akar guritamau itu berhasil melindungi dan menyelamatkan kami dari bencana ini. Sekali lagi terima kasih. Engkau telah melindungi kami.”

Rhizo seakan baru tersadar bahwa akar-akar guritanya yang dulu dianggapnya sebagai penyebab dirinya tampak menjijikkan bak monster telah bermanfaat dalam menyelamatkan spesies manusia dari gempuran gelombang tsunami yang maha dahsyat itu. Akarnya jeleknya itu juga telah melindungi berbagai spesies hewan dan tumbuhan yang berlindung dibaliknya.

Melihat kenyataan itu, dia menangis tersedu-sedu dan segera berdoa seraya meminta maaf kepada Dewata Yang Agung atas sikap lancang dan kurang bersyukurnya selama ini. “Dewata, maafkan hambamu ini. Aku telah sadar. Kamu benar. Hambamu telah berani kepada-Mu.” Tanpa berucap lagi, dia menangis sesenggukan mengakui kesalahannya selama ini.

Tsunami telah satu purnama berlalu. Sikap Rhizo sekarang berubah. Dia menjadi sangat percaya diri dengan akar-akar guritanya yang semakin hari semakian tumbuh banyak. Setiap hari, dia berdoa agar Dewata semakin menambah dan menambah lagi jumlah dan ukuran akar guritanya. Dia ingin melindungi manusia, hewan dan tumbuhan dari amukan tsunami.

Kini dia tak malu lagi bahkan bangga dengan akar-akar guritanya. Akar gurita yang kata teman-temannya menjijikkan, telah berjasa dalam membentengi rumah-rumah manusia, komunitas hewan dan tumbuhan yang berada dibelakangnya sehingga terlindung dan terselamatkan dari kerusakan yang diakibatkan oleh tsunami.

Teman-teman mangrovenya yang dulu mengolok-olok Rhizo sadar dan berjanji tak akan menghina dan mencaci Rhizo dan keluarganya lagi. Mereka bahkan menganggap Rhizo sebagai pahlawan mangrove karena telah berhasil melindungi jenis manusia, hewan dan tumbuhan dari kepunahan.

Untuk menghormati jasa Rhizo dan keluarganya, komunitas mangrove, hewan dan tumbuhan mengangkat Rhizo dan kelurganya sebagai pemimpin diantara mereka dalam sebuah upacara penobatan di hutan mangrove. Namun sayang, spesies manusia tak hadir dalam penobatan ini. Spesies itu telah melupakan tsunami dan jasa Rhizo dalam melindungi nyawa spesies mereka.

Rhizo dan keluarganya senang sekali dinobatkan sebagai pemimpin. Untuk itulah, sejak saat itu, Rhizophora dan keluarganya nampak selalu berada di barisan terdepan dalam tegakan mangrove. Mereka tanpa pamrih menerima tugas berat membentengi tiga spesies makhluk ciptaan Dewata dari bahaya abrasi dan tsunami yang bisa datang kapan saja. Sungguh mulia sikap Rhizo dan keluarganya.

Dua purnama berlalu, dua spesies ciptaan Dewata yaitu hewan dan tumbuhan melakukan doa bersama di kawasan mangrove, mengingat perilaku spesies ciptaan dewata lainnya yaitu manusia yang telah melupakan jasa Rhizophora dan keluarganya dalam melindungi spesies itu dari tsunami. Kini, spesies tak tahu terima kasih itu sering ditemukan membunuh dan menebangi Rhizophora dan keluarganya.

Hewan dan tumbuhan memanjatkan doanya, “Ya Dewata Yang Agung, semoga Engkau selalu melindungi Rhizo dan keluarganya. Lindungilah mereka dari gangguan spesies manusia yang tak tahu berterima kasih, yang selalu saja menebangi dan membunuh Rhizophora dan keluarganya secara membabi buta dan serampangan. Ya Dewata, sadarkanlah manusia-manusia yang telah khilaf itu, dan tuntunlah mereka ke jalan yang benar sehingga mereka lebih bisa berterima kasih, lebih bisa peduli lagi kepada mangrove, kepada alam dan lingkungannya. Ya Dewata, kabulkanlah doa kami ini. Amin.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s