Bayi kami itu, bernama Mangrove

Lihatlah foto di samping ini, nampak KeSEMaTers sedang menanam “bayi-bayi” mangrove berumur kurang lebih satu tahunan. Dengan sabar, teliti dan cermat, mereka menanamnya satu persatu di sepanjang sungai Kali Babon – Genuk, Semarang. Memang benar. Merawat bibit mangrove itu, bagaikan merawat bayi. Kalau tidak diperlakukan dengan hati–hati dan sepenuh hati, bisa-bisa pertumbuhannya terganggu dan tak maksimal. Kasus-kasus kegagalan penanaman banyak terjadi dan terus menerus melanda di sebagian besar proyek penanaman mangrove. Sebenarnya bukan teknik penanamannya yang salah, namun program pemeliharaannya yang payah.

Program-program monitoring seringkali terlupakan. Begitu bibit mangrove ditanam, program penanaman mangrove dianggap selesai. Padahal, seharusnya tidak demikian. Masih ada rentang waktu tiga bulan berikutnya untuk melakukan program monitoring demi menjaga kelulushidupan mangrove yang ditanam. Sebenarnya mangrove bukanlah “bayi” yang rewel. Program monitoring tiga bulan hanya difungsikan untuk menjaga pola adaptasinya, saja. Begitu dia bisa beradaptasi dengan kondisi substrat dan lingkungan barunya” alias setelah melewati masa kritisnya, dengan baik, mangrove bisa dibiarkan saja tanpa ditengok-tengok, lagi. Tak perlu pemberian vitamin layaknya anggrek, tak perlu pemberian pupuk KCL seperti padi, dia nanti bisa tumbuh sendiri.

Mangrove tak perlu diperlakukan secara istemewa dengan pemberian banyak nutrisi. Justru pemberian nutrisi (pemupukan, misalnya) tak begitu banyak berpengaruh terhadap pertumbuhannya. Jadi, asalkan dia itu diperhatikan dengan seksama, niscaya kelulushidupannya juga akan sempurna.

Bagaimana cara memperlakukannya dengan cara seksama? Program penyulaman bibit yang mati dan digantikan dengan bibit yang baru, penyiangan terhadap sampah, gulma seperti lumut dan alga, dan monitoring lainnya seperti pengukuran suhu, tipe substrat, salinitas, pH dan parameter lingkungan lainnya, harus selalu dilakukan minimal di tiga bulan pertama yang merupakan masa rentan bagi pertumbuhannya. Jangan lupa juga menyemprot daunnya dengan air laut untuk menjaganya terbebas dari hama kepiting, gastropoda, scale insect dan lain-lain, yang seringkali memangsa batang, daun dan akarnya.

Dengan program monitoring yang benar, “bayi-bayi” mangrove (kita) itu bisa mendapatkan hak hidupnya dengan baik sehingga dapat menjalankan tugas dan fungsinya dengan maksimal.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s