Ramadhan dan jajanan mangrove

Menjelang Ramadhan, di jalanan Ngesrep, daerah Kampus UNDIP Tembalang – Semarang, saat ini di kanan-kirinya, banyak bermunculan warung-warung dadakan yang menawarkan beragam makanan dan minuman. Mulai dari nasi goreng, tela-tela, c-mol, sup buah, serabi warna-warni, gado-gado, kolak, tahu gimbal, dan makanan-minuman lezat lainnya, hampir semuanya ada. Kemarin, waktu buka puasa, saya sempat mencicipi kue serabi rasa coklat. Setelah merasakan kelezatannya, saya membayangkan, seandainya serabi ini tepungnya diganti dengan tepung mangrove (tepung yang diambil dari buah-buahan mangrove), pastilah rasanya akan semakin legit saja.

Selanjutnya, andaikan saja, serabi mangrove bisa dibuat, pastilah rasanya tak akan kalah lezat dengan kue-kue mangrove yang pernah saya cicipi, seperti bubur, kelepon dan resoles (lihat foto di atas). Sayang sekali, walaupun penemuan resep-resep penganan mangrove sudah mulai banyak ditulis dan dibukukan, namun kandungan gizi yang ada di buah-buahan mangrove belum banyak diteliti sehingga masyarakat masih ragu dalam mengkonsumsi “jajanan” mangrove. Saat ini, hanya kadar abunya saja yang sudah mulai dilaporkan.

Saya hanya bisa berharap, satu tahun dari sekarang, jajanan mangrove bisa semakin populer sehingga Ramadhan tahun depan, saya bisa merasakan legitnya kue serabi mangrove.

Iklan

One thought on “Ramadhan dan jajanan mangrove

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s