No money, no mangrove

Lihatlah foto di samping ini. Para remaja ini adalah KeSEMaTERS yang sedang melakukan penyulaman mangrove di bantaran Sungai Kali Babon Genuk Semarang. Tanpa mengharapkan imbalan (baca: keuntungan) sedikitpun, mereka rela berbasah-basah, penuh lumpur, dibarengi dengan peluhan keringat, hanya untuk menyelamatkan mangrove mereka dari kematian. Semua usaha yang mereka lakukan hanyalah dilandasi oleh jiwa dan semangat konservasi yang tinggi.

Tak usah membayar mereka dengan uang sekian rupiah. Jangan pula bertanya soal gaji dan honor kepada mereka. Setiap minggu, tanpa dibayar dan dikomando, mereka dengan tulus dan sadar, bekerja memelihara dan memonitoring bibit-bibit mangrove yang telah mereka tanam, demi menyelamatkan Kali Babon dari abrasi pantai yang saat ini sedang melanda. Kenyataan seperti ini, kontras sekali dengan apa yang saya temukan pada sebuah kelompok nelayan, di pesisir Pantai Utara Jawa.

Suatu waktu, saya bertemu dengan seorang ketua kelompok nelayan, dalam kunjungan kerja saya ke suatu daerah mangrove di pesisir Pantai Utara Jawa. Pada awalnya, saya sangat antusias menyambut pertemuan saya dengan dia, karena sebagai seorang ketua, “Bapak Ini” (BI) bisa memimpin kelompoknya dengan baik, untuk bekerja berdampingan dengan Pemerintah Daerah (PEMDA) setempat, dalam usaha mengkonservasi lahan mangrove terabrasi di pesisir pantainya. Namun sayang, ketika tahu bahwa semua usaha pelestarian mangrovenya kurang tulus dan sangat berpamrih demi mencari uang (baca: keuntungan) semata, secara perlahan, antusiasme saya terhadap dia, luntur dengan sendirinya.

Bekerja di mangrove, memang membutuhkan banyak pengorbanan. Mulai dari survei lokasi, penentuan lokasi penanaman, pembelian bibit, pengangkutan bibit, pembibitan benih, penanaman bibit, sampai dengan pemeliharaan bibit-bibit mangrove yang telah ditanam, tak bisa dipungkiri, sangatlah berat. Pekerjaan-pekerjaan ini sangat menguras tenaga, uang, pikiran dan waktu kita. Untuk itulah, saya juga tak akan menyalahkan seratus persen kepada pihak-pihak yang hanya melihat pekerjaan di mangrove ini, sebagai sebuah pekerjaan proyek untuk mendapatkan uang belaka.

Yang saya sebut terakhir inilah, yang sayangnya sedang dilakukan oleh BI. Tanpa ada sedikitpun rasa pengorbanan terhadap alam, usaha konservasi mangrove yang telah dilakukannya, murni hanya untuk mencari keuntungan belaka. Buktinya, setelah proyek konservasi mangrove yang dikerjakan oleh kelompoknya selesai, tak ada sedikitpun jiwa konservasi untuk menyelamatkan mangrovenya kembali, padahal bibit-bibit mangrove yang telah mereka tanam, saya lihat 90% mengalami kematian akibat sampah, gangguan ganggang, dan tumbang diterjang gelombang. Alasan keengganan mereka dalam menyelamatkan bibit-bibit mangrovenya sederhana saja, tak ada dana (lagi) untuk usaha penyelamatan itu. PEMDA setempat tak melanjutkan kembali proyek penanaman mangrove untuk menanggulangi daerah terabrasi di sekitar pesisir pantai BI, karena alokasi dana proyek mangrove di daerah itu, memang sudah tidak ada alias tidak dianggarkan lagi.

Saya paham dengan kenyataan ini. Namun, kalau saja BI dan kelompoknya mau, sebenarnya mereka bisa saja, secara swadaya mengambil propagul (benih mangrove) di sebelah selatan sungai dan tinggal mendistribusikan untuk kemudian menanamnya kembali untuk mengganti bibit-bibit yang mati tersebut (program penyulaman). Selanjutnya, dengan program pemeliharaan dan monitoring yang bisa dengan mudah mereka lakukan setelah pulang dari laut, mereka sebenarnya telah mengerjakan sebuah proyek mangrove tanpa butuh keluar uang sepeserpun, pun mengandalkan bantuan dari PEMDA mereka.

Sayang sekali, BI dan kelompoknya belum bisa memahami konsep konservasi mangrove secara swadaya, yang telah dipraktekkan oleh KeSEMaTERS di atas dan beberapa kelompok petani mangrove/nelayan di Rembang, Pemalang dan Demak. Prinsip tak mau bekerja untuk mangrove kalau tak ada uangnya, seolah telah begitu melekat dalam benak BI dan kelompoknya. No money, no mangrove. Sayang sekali!

Saya pribadi berpendapat, tak sepantasnya bagi kita, untuk menjadikan mangrove sebagai sebuah obyek pengeruk keuntungan bagi diri kita. Jiwa pengorbanan terhadap mangrove yang telah banyak membantu kehidupan manusia, selayaknya kita tumbuhkembangkan untuk kemudian kita balas dengan sebuah usaha konservasi yang tulus tanpa embel-embel no money, no mangrove. Kalau embel-embel ini terus bergelayut dalam diri kita, percayalah, permasalahan mangrove di Indonesia tak akan pernah selesai sampai kapanpun.

Memang, Indonesia membutuhkan orang-orang yang rela tak digaji untuk bekerja demi kelestarian mangrovenya, dan bukanlah orang-orang yang hanya mau bekerja untuk mangrove, kalau ada uang proyeknya saja. Namun sayang, untuk mencari orang-orang yang rela tak digaji itu, bagaikan mencari sebuah jarum dalam tumpukan jerami.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s