Tujuh hari di Kalimantan. Semuanya tentang mangrove

Cerita hari pertama dimulai ketika KeSEMaT diminta bantuannya untuk mensurvei vegetasi mangrove di sepanjang pesisir Provinsi Kalimantan Timur. Hal itu berkenaan dengan pembuatan Master Plan perlindungan dan pemanfaatan kawasan pantai Provinsi Kalimantan Timur (KALTIM) oleh BAPPEDA KALTIM. Singkat cerita, dua orang KeSEMaTers tiba di Bandara Sepinggan, Balikpapan Kalimantan Timur setelah bertolak dari Surabaya, pada Hari Sabtu, 24 November 2007. Dua KeSEMaTers itu adalah saya sendiri (Sapto Pamungkas – lihat foto di atas) dan teman saya Muhamad Ikhsan.

Cuaca yang terik, menjamu kami di Balikpapan. Dengan perbedaan waktu yang lebih cepat satu jam dari tempat kami di Semarang, kami segera mencocokan waktu pada jam kami masing-masing dengan waktu setempat. Pukul 13.20 WITA tepat, saya menginjakkan kaki untuk pertama kalinya, di Tanah Kalimantan.

Selepas kami tiba di Bandara Sepinggan, mobil jemputan kami datang tanpa menunggu lama. Maklum, kedatangan kami memang sudah terencana dengan baik. Mobil kami meluncur meninggalkan bandara melewati tengah Kota Balikpapan, kota minyak yang bersih dan rapi. Kami menuju ke sebuah wisma pantai, di dekat pusat ruang publik Kota Balikpapan yang disebut Lapangan Merdeka (seperti alun-alun kalau di Jawa). Rencananya, kami akan menginap di sini malam ini.

Keesokan harinya, Minggu pagi. Kami langsung turun ke lapangan. Rasa letih yang masih tersisa dari perjalanan Semarang – Balikpapan, tidak kami pedulikan. Tim kami berjumlah empat orang, yaitu Ikhsan, saya, seorang teman yang baru kami kenal Wahyu namanya, dan seorang lagi yaitu supir kami yang lucu (orang Bugis yang menetap di Balikpapan), kami memanggilnya Pak Udin.

Wahyu bertugas untuk mensurvei kondisi sosial ekonomi masyarakat, sedangkan Ikhsan dan saya mensurvei kondisi vegetasi mangrove di sepanjang pesisir Kalimantan Timur. Untuk Pak Udin, tentu saja hanya mengantar kami, ke mana saja di sepanjang pesisir KALTIM.

Sesuai dengan hasil briefing di Semarang, tujuan kami di hari pertama adalah ke arah selatan Balikpapan, ke sebuah kota bernama Tanah Grogot. Persiapan matang dan peralatan, telah kami lakukan dari Kantor KeSEMaT Semarang. Sebuah roll meter, alat penghitung manual, data sheet untuk mengukur kerapatan mangrove, satu gulung rafia, jangka sorong, penggaris, buku identifikasi mangrove, dan peta serta GPS (Global Positioning System), yang baru kami dapat setelah kami tiba di KALTIM, semuanya telah tertata rapi di tas yang kami bawa. Mobil yang kami tumpangi segera meluncur dari wisma pantai. Dengan cekatan, Pak Udin membawa kami meninggalkan pusat Kota Balikpapan.

Di dalam mobil, perbincangan asyik tapi wagu (baca: aneh) pun terjadi, memang asalnya kami ini orang ndeso, jadi nggumunan (baca: sering takjub kalau melihat sesuatu hal yang baru), kalo berpergian jauh.

”Cari sarapan dulu Pak Udin,” kata saya.
”Golek Jajan sekalian Sap, sing okeh,” tambah Iksan dengan Bahasa Jawanya yang kental.

Singkat kata, perut kami berempat sudah kenyang dengan menu ikan dan ayam bakar untuk sarapan. Di mobil kamipun, telah tersedia dua plastik besar snack dan beberapa botol air mineral. Maklum mahasiswa, mumpung (baca: kebetulan) ada uang gratisan, langsung sikat. He..he.

Untuk sampai di Tanah Grogot, kami harus naik Fery dari Pelabuhan Kariangau. Kariangau adalah sebuah pelabuhan di pinggir Kota Balikpapan, menuju Penajam. Di Kariangau, untuk pertama kalinya kami melihat hutan mangrove selama perjalanan di Kalimantan. Kondisinya lebih lebat dari hutan mangrove manapun di Pantura.

Kami menjumpai kegiatan manusia mengancam keberadaan Hutan Mangrove Kariangau. Selain untuk perluasan pelabuhan, sepanjang perjalanan kami melihat minimal tiga titik areal mangrove seluas 4 – 6 ha yang dibabat habis untuk pabrik galangan kapal. Selanjutnya, di perkampungan, hutan mangrove Kariangau juga banyak dikonversi manjadi tambak. Kami hanya berharap apabila diberi kesempatan untuk kembali ke sini, hutan mangrove Kariangau ini, masih tetap lebat seperti sekarang. Semoga!

Naik Fery ke Penajam butuh waktu kurang lebih satu jam. Harga tiket yang kami bayar sebanyak Rp. 103.000,-. Tak lama berselang, kami masuk pelabuhan. Antrian panjang mobil dan motor segera kami lihat. Cukup lama juga kami mengantri untuk dapat masuk Fery.

Kapal yang kami tunggangi bernama Trunojoyo. Kata awak kapal, ada 5 buah kapal yang melayani penyeberangan Balikpapan – Penajam selama 24 jam sehari. Jadi, setiap 25 menit, pasti ada Fery yang berangkat. Rame juga, pikir saya. Di kapal, kami jumpai suasana yang tidak berbeda dengan suasana penyeberangan ke Karimunjawa dari Jepara.

Akeh wong Jowone,” celetuk Ikhsan
Kontan saya mengamini, ”Hooh.”

Bayangkan! Kami di Kalimantan, yang kami kira, bakal bertemu dengan banyak orang Dayak. Ternyata, jauh dari perkiraan kami. Suasananya jadi seperti kampung sendiri. Banyak orang Jawanya! Orang Jawa Timuran: Kediri, Surabaya, Lamongan. Jawa Tengahan: Sragen, Solo, Brebes, dan Banyumas, banyak kami jumpai. Ternyata, orang Dayak lebih banyak tinggal di bagian tengah Kalimantan. Hilanglah harapan kami untuk berjumpa dengan gadis-gadis Dayak. He..he.

Satu jam telah berlalu, kami sampai di Penajam Kabupaten Pasir Utara. Setelah turun dari Fery, perjalanan kami lanjutkan ke selatan. Yang saya jumpai di Penajam adalah sebuah kota kecil yang kurang sedap dipandang mata. Kotor! Penajam adalah ibukota Kabupaten Pasir Utara. Bentuk tata kotanya hanya dua ruas jalan utama (lebih kurang 3 km). Lalu, di samping kiri kananya, berdiri bangunan pusat kota. Selanjutnya, beberapa menit kemudian, rombongan kami sudah berada di jalan utama menuju Tanah Grogot. Selama perjalanan, kami jarang menjumpai rumah atau perkampungan.

Kami melihat sisa-sisa lebatnya Hutan Hujan Tropis Borneo (Kalimantan), yang dulu sangat terkenal sebagai hutan hujan tropis terluas di Asia. Kini, yang tersisa hanyalah padang ilalang dan semak belukar yang terlihat sepanjang perjalanan.

Untuk hari pertama, kami hanya berhasil mensurvei satu kawasan mangrove saja, yaitu di Babulu Laut, Pasir Utara. Untuk mencapai Babulu Laut, mobil kami harus keluar dari jalur utama. Kira kira 7 km, kami harus menempuh perjalanan dengan kondisi jalan memprihatinkan. Sangat sempit, banyak lubang, dan berasap karena di samping kiri-kanan, kami jumpai banyak pembakaran lahan.

Setelah sampai Babulu Laut, kami segera mengerjakan tugas masing-masing. Wahyu membagi kuesioner tentang sosial dan ekonomi. Sementara itu, saya dan Ikhsan segera mensurvei mangrove. Pak Udin, tentu saja setia menunggu kami di dalam mobil, itung-itung sambil istirahat.

Mangrove Babulu Laut didominasi oleh vegetasi nipah (Nypa fruticans). Memang, kondisi substrat berlumpur dan daerah rawa sangat cocok untuk tempat hidup nipah. Setiba di lokasi yang kami anggap cocok, Ikhsan segera mambentangkan roll meter yang kami bawa. Sepuluh meter panjangnya. Selanjutnya, giliran saya menghidupkan GPS, untuk mengetahui dimana posisi kami berada, kemudian dicatat.

Kami mengukur banyaknya mangrove dalam kategori Trees (pohon) yaitu mangrove yang diameter batangnya lebih besar dari 4 cm dalam area 10 x 10 meter persegi. Selanjutnya, kami menghitung Sapling (anakan) yaitu mangrove yang diameternya 1 cm < d < 4 cm (Baca d = diameter ,) dalam area 5 x 5 meter persegi. Terakhir, kami mengukur Seedling (bibit), yaitu mangrove yang diameter batangnya kurang dari 1 cm.

Setiap individu mangrove kami ukur diameternya menggunakan jangka sorong dan penggaris. Setelah semua selesai, kami mendokumentasikan mangrove Babulu Laut dari berbagai sudut pandang di setiap area dominasi, setiap spesies, juga jenis substratnya. Tak ketinggalan, kami juga mendokumentasikan foto – foto narsis kami. He..he.

Beberapa jam kemudian, mobil yang kami tumpangi segera meluncur meninggalkan Babulu Laut. Jalan yang memprihatinkan tadi kami lewati sekali lagi. Setelah hampir setengah jam, kami kembali menjumpai jalan utama. Kami bernapas lega. Pukul 16.00 WITA waktu itu, kami memutuskan bahwa survei hari ini cukup. Disamping waktu yang sudah sore, jarak ke Tanah Grogot juga masih jauh.

Akhirnya sepanjang perjalanan berikutnya, kami hanya mencatat nama-nama sungai yang kami lewati dan menanyakan ke penduduk setempat apakah ada jalan yang cukup uagar mobil kami bisa masuk menuju muara. Tentu saja, dengan sebuah harapan, di muara nanti ada hutan mangrove yang bisa kami ukur.

Hampir Isya kami sampai di Tanah Grogot. Kami segera mencari hotel untuk menginap. Keletihan dan kelaparan mendera kami. Saya langsung masuk kamar dan manjatuhkan diri ke tempat tidur yang nyaman. Malam kami di Tanah Grogot, hampir tidak ada hubunganya dengan mangrove. Hanya mandi, sholat, cari makan, lalu nonton TV sampai tertidur di kamar hotel.

Inilah yang dapat saya sampaikan di hari pertama kami. Dua orang KeSEMaTers di Bumi Kalimantan. Hari selanjutnya telah menunggu. Pasti lebih asyik dan seru lagi. Tunggu cerita saya di edisi selanjutnya. See you MANGROVER!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s