Nasib mangrove: Hidup segan mati tak mau

Siapa bilang, menjadi mangrove adalah enak. Apabila dimisalkan, peribahasa “hidup segan mati tak mau,” adalah sebuah ungkapan yang pas sekali untuk menggambarkan kehidupannya yang selalu merana. Tumbuhan cantik yang berhabitat di sepanjang estuaria, yaitu sebuah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut ini, mungkin memang ditakdirkan untuk selalu menderita. Telah hidup berabad-abad lamanya di bumi, tak juga membuatnya mendapatkan perlakuan yang layak dari manusia, pun makhluk hidup lainnya.

Kalau saja, akhir-akhir ini mulai banyak manusia yang memperhatikan kehidupan mereka, rasanya perhatian itu belum mampu mengurangi penderitaan yang telah mereka alami selama beberapa abad ini. Di Semarang, budaya mereklamasi pantai tetap saja ada dan terus menerus mengakar. Terlebih lagi setelah dicanangkannya Semarang sebagai Kota Jasa dan Perdagangan, semakin terpojokkanlah keberadaan mereka ke suatu tempat yang paling marginal. Di Demak, sudah tak tahu lagi berapa puluh hektar populasi mangrove yang dibuka dan dibabat demi tambak. Informasi terakhir, dua desa akan segera dibedol dan dipindah ke lokasi yang aman, karena desa itu telah terendam oleh air laut. Di Jepara, Rembang dan hampir semua tempat di pesisir Indonesia, sudah jutaan hektar mangrove yang ditebang demi memuaskan ambisi manusia di bidang perumahan dan ekowisata yang ujung-ujungnya untuk mengeruk keuntungan belaka.

Seakan melengkapi penderitaan mereka, selain manusia, dengan makhluk hidup lainnyapun, mangrove juga dimusuhi. Memang, tak hanya dengan manusia saja mereka berkonfrontasi, dengan semut pun, mangrove berkelahi. Lihatlah gambar di atas, propagul mangrove jenis Rhizophora apiculata sedang sekarat karena dimangsa semut. Semut memangsa propagul, karena alat regenerasi mangrove itu mengandung kadar gula yang disukainya. Selain semut, masih banyak lagi musuh-musuh semut yang siap merusak siklus hidupnya seperti kepiting, keong, scale insect, ulat, kambing dan lain-lain.

Namun, untungnya masih ada saja manusia dan makhluk hidup lainnya yang setia mendampingi mangrove dalam menjalani kehidupannya. Apalagi setelah beberapa tahun ini, manusia seakan terjaga dari tidur panjangnya dan mulai bisa melihat fungsi dan manfaat mangrove yang sangat besar dalam menjaga keseimbangan alam di bumi ini. Kini, manusia mulai banyak melakukan program-program rehabilitasi pesisir untuk menyelamatkan kehidupan mangrove di berbagai wilayah Indonesia. Walaupun belum maksimal, setidaknya inisiasi ini adalah baik demi kelangsungan hidup mangrove di masa depan.

Akhirnya, kita hanya berharap, di tahun-tahun mendatang, semakin banyak lagi makhluk hidup lainnya yang menyayangi dan mencintai mangrove sehingga peribahasa “hidup segan mati tak mau” bisa berganti dengan “hidup senang matipun nyaman.” Semoga saja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s