Alam tak pernah salah

“Indonesia Dikepung Bencana!” Itulah salah satu headline berita METRO TV, beberapa hari lalu. METRO nampaknya ingin menyampaikan berita-berita bencana alam yang menimpa di hampir seluruh wilayah Indonesia, dalam kurun waktu tiga bulan terakhir ini, kepada pemirsanya. Stasiun TV khusus berita itu, juga mengajak masyarakat agar berhati-hati terhadap kemungkinan terjadinya bencana alam di daerah mereka masing-masing seperti gempa bumi yang telah terjadi di Bengkulu, tanah longsor di Karanganyar, banjir di Cepu, Solo, Bojonegoro, Lamongan, Ngawi, Pati, Jakarta dan beberapa tempat lainnya.

Memang, bencana alam, seolah tak ada habisnya menghujami bumi pertiwi nan elok ini. Setelah gelombang tsunami maha dahsyat memporak-porandakan Nangroe Aceh Darussalam beberapa tahun silam, kini, di bulan-bulan peralihan 2007 dan 2008, Indonesia seolah kembali menjelma menjadi sebuah “Negeri Penuh Bencana,” lagi.

Penanganan korban-korban bencana alam oleh pemerintah yang bagi sebagian pihak dianggap terlambat dan tak tepat sasaran, semakin memperparah keadaan. Bencana yang sudah berakibat sangat buruk kepada mereka, makin diperparah lagi dengan pola penanganan korban bencana alam yang tak bisa terkoordinasi secara rapi. Tentu saja, hal ini sangat disayangkan.

Namun demikian, dalam menyikapi bencana alam ini, tak dibutuhkan perang wacana di antara kita, tentang siapa yang lebih bertanggung jawab dalam penanganan bencana. Kita juga tak boleh saling menyalahkan dan main suruh kepada pemerintah, saja. Sebaliknya, semua elemen masyarakat dan pemerintah, harus bersatu padu dalam menangani para korban ini, agar nasib para korban di tenda-tenda pengungsian, tak semakin menderita.

Selanjutnya, tak hanya di daerah daratan saja, bencana alam menampilkan dampak buruknya. Di pesisir, di tempat kami bekerja, bencana juga berakibat buruk terhadap bibit-bibit mangrove kami. Ketidaktepatan perhitungan kami dalam menentukan waktu penanaman mangrove yang tepat, menjadi sebuah momok yang sangat menakutkan. Mengapa demikian? Karena hal inilah yang menjadi penyebab utama tergenangnya bayi-bayi mangrove kami di Teluk Awur Jepara. Lihatlah foto di atas, usaha penanaman mangrove yang telah kami lakukan menjadi sia-sia, akibat keteledoran kami. Ini memang kesalahan kami.

Melihat kenyataan ini, tentu saja kami sedih. Dalam waktu dekat, kami akan segera melakukan pengecekan dan memperbaiki ajir serta mengikat ulang bibit-bibit mangrove kami yang rusak terendam banjir. Kami tidak menyalahkan alam. Karena kami tahu, alam tak pernah salah. Kalau kami menyalahkan alam, berarti kami menganggap Tuhan tidak benar. Tidak! Sang Ilahi tidak pernah salah, Sang Empunya bumi ini, mutlak selalu benar dan justru kamilah yang melakukan kesalahan kepada mangrove, karena kami tak menghitung dan memprediksikan datangnya badai ini secara matang dan akurat.

Namun demikian, jangan salah. Ada beberapa pihak yang sengaja menunggu-nunggu datangnya bencana alam ini sebagai alasan utama mereka dalam menjawab dan membentengi dirinya terhadap kegagalan proyek penanaman mangrove yang baru saja mereka lakukan. Cuaca buruk yang melanda Indonesia, telah dengan seenaknya mereka klaim sebagai penyebab utama kegagalan proyek penanaman mangrove mereka.

Padahal, (yang sebenarnya terjadi adalah) teknis penanaman merekalah yang tidak benar dan tak maksimal sehingga tanpa adanya gelombang pasang-pun, bibit-bibit mangrove yang telah mereka tanam-pun akan mati dengan sendirinya. Dalam kasus ini, nampaknya ada kesengajaan pelimpahan kesalahan kepada alam, yang mutlak tak bisa disalahkan. Tentu saja, kasus pelemparan kesalahan kepada alam ini, sangat tidak benar dan tidak bertanggung jawab. Mereka yang melakukan ini bagaikan seorang pelempar batu yang kemudian menyembuyikan tangannya.

Memang, akibat diterjang gelombang tinggi, tanpa ampun lagi, bibit-bibit mangrove muda yang baru saja kita tanam, bisa langsung hilang dan “binasa.” Namun demikian, alasan kegagalan penanaman kita karena alam, tentu saja (bagi orang yang mengerti dan bertanggung jawab), tidak layak dan tidak patut untuk disampaikan. Sebaliknya, keberadaan bencana alam seperti banjir, gelombang pasang, angin topan dan badai misalnya, yang tentunya akan bisa menyapu semua bibit-bibit mangrove yang baru ditanam, seharusnya sudah dipikirkan di awal pekerjaan.

Proses penelitian dan penelaahan mengenai kondisi iklim dan cuaca lokasi di penanaman (sebelum mengadakan penanaman), seharusnya harus benar-benar dipikirkan secara matang. Dengan demikian, apabila ditengarai akan terjadi badai dalam beberapa waktu (baca: bulan) ke depan, tak sepantasnya proyek-proyek mangrove itu dijalankan. Jadi, bukan alamnya yang salah, melainkan perencanaan kerja oleh manusianya, yang tidak benar!

Sayangnya, kasus-kasus penyalahan dan pelemparan tanggung jawab kepada kepada alam seperti ini, marak dilakukan oleh beberapa oknum pelaku pekerjaan mangrove di pesisir-pesisir Indonesia. Tanpa ada permintaan maaf kepada manusia dan alamnya, dengan seenaknya mereka mengatakan, “Itu bukan salah kami, kami sudah melakukan pekerjaan penanaman mangrove kami dengan benar, tapi kenyataannya, alamlah yang merusaknya. Andaikan tidak ada gelombang pasang yang menerjang bibit-bibit mangrove itu, kami jamin, proyek ini bisa sukses dan berhasil dengan baik. Sekali lagi, jangan salahkan kami, dong. Salahkan alam yang telah merusak pekerjaan kami!”

Astagfirullah!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s