Dibalik kesuksesan Mangrove Cultivation 2008: Banjir kaum muda, gersang generasi tua

Sampai dengan 16 Maret 2008, kemarin, minat Kaum Muda (KM) di Semarang terhadap kegiatan mangrove, sangatlah tinggi. Setidaknya, fakta ini terlihat dari membanjirnya peserta Mangrove Cultivation (MC) 2008: Seminar Global Warming, Penyuluhan dan Pembibitan Mangrove, yang tahun ini kembali diselenggarakan oleh KeSEMaT, di Teluk Awur Jepara Jawa Tengah pada tanggal 14 – 16 Maret 2008. Dari 50 kuota yang disediakan oleh KeSEMaT, tiket MC 2008 telah habis terjual, dua hari sebelum pendaftaran ditutup (08/06/08).

Bahkan, KeSEMaT terpaksa harus menolak beberapa puluh orang calon peserta, yang telat daftar, karena terbatasnya fasilitas yang akan diberikan panitia kepada peserta MC 2008. Kenyataan seperti ini, berbeda sekali dengan keadaan beberapa tahun ke belakang, dimana kesadaran dan antusiasme KM Semarang masih rendah. Apabila menilik peristiwa di tahun 2003. Untuk menarik minat para KM Semarang agar mau mengikuti program konservasi mangrove KeSEMaT bernama Mangrove REpLaNT (MR), KeSEMaT harus mati-matian membuat beratus-ratus lembar surat dan pamflet ke berbagai Pecinta Alam (PA) dan organisasi-organisasi masyarakat lainnya. Sekarang (2008), hanya dengan berbekal dua buah spanduk, pamflet berpuluh lembar dan beberapa pengumuman kecil di KeSEMaTPORTAL, peserta sudah datang dengan sendirinya.

Namun demikian, sangat disayangkan, membludaknya KM di MC 2008 tak diikuti dengan membanjirnya partisipasi dari Generasi Tuanya (GT). Gersang, kiranya itulah kata yang pas diberikan, untuk mendeskripsikan absennya para GT, ini. Selain pembicara, Kepala Desa Teluk Awur, dan satu orang perwakilan dosen UNDIP, tak ada lagi GT yang nampak mengikuti kegiatan mulia demi menyelamatkan ekosistem mangrove di pesisir pantai Teluk Awur dari abrasi, ini.

Padahal, KeSEMaT sudah mengundang berbagai elemen masyarakat di sana, pun para pengajar UNDIP untuk bisa dan mau bergabung di MC 2008. Namun, mengingat kesibukan para GT, (Alhamdulillah), tak satupun dari mereka yang berkenan hadir.

Minat dan antusiasme yang sangat tinggi, yang ditunjukkan oleh para agen muda, ironisnya tak didukung sepenuhnya oleh kaum tuanya, yang seharusnya lebih bisa mengayomi dan memberikan contoh yang baik, terhadap usaha-usaha penyelamatan lingkungan pesisir, seperti yang telah diinisiasi oleh KeSEMaT, ini.

Namun untunglah, tak adanya GT, tak memberikan efek apapun bagi KM, bahkan 90 orang agen muda itu nampak sangat semangat dalam mengikuti keseluruhan rangkaian acara MC 2008 yang menurut banyak pihak sukses besar dan berlangsung sangat meriah (lihat foto di atas) karena diisi dengan beragam tema, beragam acara mulia. Acara seperti Seminar Regional Global Warming (yang mendatangkan pembicara dari Kepala BMG Jawa Tengah, Direktur Eksekutif WALHI Jawa Tengah, Praktisi FPIK UNDIP, dan Pemerintah Kabupatan Jepara), pengenalan spesies mangrove, pelatihan pembibitan mangrove, susur pantai, wisata mangrove, kunjungan ke Arboretum Mangrove KeSEMaT dan lain-lain, seakan dilalap habis oleh peserta MC 2008, yang 99% berasal dari luar Jurusan Ilmu Kelautan (IK), Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) UNDIP.

Memang, peserta MC 2008 hanya dua orang saja yang berasal dari IK FPIK UNDIP. Selebihnya adalah peserta dari luar yang terdiri dari berbagai organisasi mahasiswa, jurusan dan fakultas dari UNDIP dan Universitas Negeri Semarang (UNNES), seperti STOP HIV-A, Perikanan, Psikologi, Sastra, LPM Manunggal, Geografi, MIPA, FISIP, UKSA, Teknik Kimia, Teknik Sipil, dan lain-lain. Melihat kenyataan ini, memang sungguh sangat disayangkan, mengingat KeSEMaT adalah milik IK FPIK UNDIP, yang seharusnya lebih mendapatkan banyak ”dukungan” dari institusinya sendiri. Tak adanya partisipasi dari dosen pun mahasiswa IK-FPIK UNDIP, pada awalnya sempat membuat peserta dan pembicara bertanya-tanya. Namun, setelah KeSEMaT menjelaskannya secara berimbang dan komprehensif, semuanya bisa memahami dan mengerti.

Akhirnya, sebuah usaha penyelamatan mangrove sekecil dan sebesar apapun, nampaknya harus mulai dimengerti dan disadari oleh kita semua sebagai sebuah usaha yang besar manfaatnya bagi lingkungan pesisir kita. Tak perlu memandang siapa yang menginisiasi terlebih dahulu, siapa yang mengikutinya, pun tingkatan kegiatannya yang regional, nasional ataupun internasional.

Sebagai perenungan bagi kita semua, sekali lagi, mangrove itu tak memandang penting siapa yang menginisiasi terlebih dahulu, siapa yang mengikutinya, pun tingkatan kegiatannya yang regional, nasional ataupun internasional. Sebaliknya, mangrove akan tersenyum gembira apabila kita ini bisa mendukung dan mengikuti setiap kegiatan penyelamatan mangrove di pesisir kita. Jadi, kecil atau besar kegiatannya, tak perlu dipandang, tak usah dipikirkan. Sebaliknya, sudah sepatutnya kita untuk lebih peduli, mengapresiasi dan mendukungnya.

Semoga saja, di masa mendatang, kegiatan-kegiatan yang diinisiasi oleh para agen muda kita ini, tak akan dipandang sebelah mata lagi, bahkan akan lebih mendapatkan perhatian dan dukungan lagi dari kita semua, demi lestarinya generasi muda mangrove dan agen muda manusia, di masa depan. Amin.

Mari bersama-sama menyelamatkan ekosistem mangrove kita. Sekarang! Kalau bukan kita, siapa lagi? Kalau tidak sekarang, kapan lagi? Semangat MANGROVER!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s