Kontinyuitas yang coba ditebas

Ada pandangan dari beberapa pihak yang menurut kami “agak aneh” yang menilai bahwa sebuah kontinyuitas kiranya harus mulai “ditebas”. Mereka berpendapat bahwa untuk melakukan sesuatu, tak melulu harus dibarengi dengan konsep kontinyuitas. Sebagai contoh, program-program rehabilitasi mangrove, seharusnya tak usah berlangsung terus menerus setiap tahun melainkan hanya beberapa waktu saja.

Apa pasal? Karena kalau terlalu lama, sudah pasti akan membutuhkan banyak waktu, uang dan menghabiskan ribuan tenaga. Walaupun terkesan “lucu”, kami menanggapi pandangan ini dengan “senyuman manis”.

Terus terang, kami agak sedikit heran dengan penilaian yang mengatakan bahwa kontinyuitas (yang juga sudah dilakukan oleh KeSEMaT) adalah usaha sia-sia dan tiada guna. Masih menurut mereka, penyuluhan mangrove juga cukuplah dilakukan sekali, saja. Tak usah diadakan puluhan kali. Selain membosankan, juga akan menghabiskan banyak uang dan tenaga, saja. Astagfirullah!

Tanpa berniat untuk mengomentarinya lebih jauh, memang sangat benar bahwa setiap usaha restorasi mangrove di wilayah pesisir akan banyak sekali mengeluarkan uang pun jutaan waktu dan tenaga. Menurut hemat kami, ini adalah resiko mahal yang wajib kita tanggung. Resiko dari perbuatan “tidak senonoh” kita yang sudah terlanjur kita lakukan terhadap alam pesisir, kita.

Apakah kita sadar, bahwa kita ini sudah terlanjur merusak dan menodai ekosistem pesisir kita. Maka(nya), banyaknya tenaga, panjangnya waktu dan besarnya uang untuk usaha perbaikan ke arah kondisi awalnya, tentu saja harus kita tanggung bersama sebagai sebuah kompensasi yang wajib kita bayarkan kepada alam pesisir kita. Benar kata pepatah, “mencegah itu lebih baik daripada mengobati”. Nah, kalau sudah mengobati, jangan tanya lagi berapa trilyunan money yang harus kita kucuri. Jadi, karena kita ini sudah dalam tahap mengobatai (bukan mencegah), maka mau tak mau kita wajib mengorbankan semua milik kita, demi menyelamatkan wilayah pesisir kita.

Kembali ke masalah mulai ditebasnya kontinyuitas. Menurut hemat kami, pandangan yang mengatakan bahwa kontinyuitas tak perlu adalah sah-sah, saja. Toh, setiap orang memiliki hak untuk mengemukakan pendapatnya sendiri. Tapi, kami kok merasa yang menganut faham Non-Kontinyuitas (NK) ini adalah pihak yang belum tahu kondisi lapangan yang sebenarnya.

Walaupun di sedikit wilayah pesisir di pantai Utara Jawa, kesadaran masyarakat untuk mengelola pesisirnya sudah sangat baik, namun di banyak wilayah di Indonesia, masih bejibun pula orang yang belum tahu apalagi mengerti akan arti penting mangrove beserta tata cara restorasinya. Untuk itulah, selama tujuh tahun ini bekerja di pesisir, kami berusaha memberikan Penyuluhan, Penanaman dan Pemeliharaan Mangrove (P3M) secara kontinyu dan tak terputus di tiap generasi mereka.

Lihatlah foto di atas, sebuah usaha kami untuk memperkenalkan kuliner mangrove di Mangrove REpLaNT 2007: Penyuluhan, Pelatihan dan Penanaman Mangrove, kepada kurang lebih 200 orang peserta, tak hanya kami lakukan di tahun 2007 saja, melainkan terus menerus kami kampanyekan hingga kini, di saat kunjungan kerja kami, di beberapa daerah di pantai Utara Jawa. Hasilnya? Sayang sekali, usaha kami masih juga belum berhasil secara maksimal.

Jika secara kontinyu saja, kami masih belum berhasil, lalu bagaimana mungkin konsep ketidakkontinyuian itu bisa diterima (?). Padahal, apabila sekali saja P3M terputus di satu generasi, maka kita harus mengulang P3M itu mulai dari awal lagi, untuk membuat sebuah pengetahuan mangrove bisa diterima secara baik lagi, oleh masyarakat pesisir. Adalah sangat sulit untuk merubah mindset masyarakat yang sudah terlanjur menganggap hutan mangrove adalah sebuah kawasan penuh penyakit, sampah serta ladang nyamuk, kalau tidak dilakukan secara kontinyu dan terus menerus.

Sampai sekarang ini, kamipun tak habis pikir, mengapa muncul pihak NK, ini. Terkadang, ada pemikiran-jelek yang terlintas di benak kami, bahwa orang-orang NK sebenarnya sayang untuk mau mengeluarkan uangnya untuk mendanai program-program rehabilitasi mangrove/pesisir. Kalau pikiran-jelek kami ini benar (semoga saja salah), tentu saja sangat disayangkan. Setelah sekian tahun hidup berdampingan dan merusak alam kita, para NK tidak mau mengeluarkan segepok uang demi usaha pelestariannya. Padahal, usaha pelestarian inipun, kalau mereka sadar, adalah juga demi kesejahteraan mereka, kebahagiaan kita bersama, umat manusia, di masa mendatang.

Selanjutnya, jikalau NK gusar akan usaha kontinyuitas ini memboroskan banyak uang(nya), maka tak usahlah terlalu kuatir. Dana untuk usaha rehabilitasi mangrove secara kontinyu ini, sebenarnya adalah dana swadaya kami sendiri. Jadi, bagi pihak NK yang takut uangnya keluar, tak usah kuatir. Kami berjanji, kami tidak akan melibatkan diri Anda dalam usaha restorasi mangrove ini, demi masa depan Anda, anak cucu Anda dan seluruh umat manusia, ini.

Namun demikian, kami berharap bahwa Anda janganlah menjadi orang yang berusaha untuk menebas kekontinyuitasan pekerjaan mangrove, ini. Apa pasal? Karena bekerja di dunia mangrove, hukumnya haram apabila dimainkan dengan konsep NK. Pun, sekali ditebas, yakinlah kekontinyuitasan itu, akan menetas dan meretas kembali. Salam MANGROVER!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s