Bedol Desa, saja. Tidak cukup!

Kali ini, kami hanya ingin bertanya. Apa yang ada di benak Anda setelah melihat dan mencermati foto di samping ini? Tapi tunggu, sebelum menyampaikan pikiran Anda, sedikit informasi akan kami bagikan kepada Anda bahwa dua buah foto di samping ini (atas dan bawah), diambil oleh KeSEMaT di sebuah desa bernama Bedono yang terletak di Demak Jawa Tengah, pada tanggal 5 Juli 2008. Bedono, adalah satu dari beberapa desa pesisir di Indonesia, yang “direkomendasikan” oleh Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) Jakarta sebagai desa percontohan bagi pengelolaan wilayah pesisir di Indonesia.

Namun demikian, mohon jangan salah sangka. “Terpilihnya” Bedono sebagai desa percontohan bukan dalam arti Bedono memilki prestasi yang bagus dalam pengelolaan wilayah pesisirnya. Sebaliknya, karena desa ini telah salah dalam menerapkan pengaturan kebijakan di wilayah pesisirnya. Penebangan ekosistem mangrove dan pengalihfungsiannya menjadi areal pertambakan dengan pengaturan yang buruk, telah menyebabkan tenggelamnya hampir keseluruhan wilayah desa.

Foto pertama (atas) adalah foto rumah yang telah ditinggalkan oleh penghuninya. Selain rusak berat karena rembesan air pasang (baca: rob), kondisinya memang sudah tidak memungkinkan lagi untuk ditinggali. Lihatlah bagian depan dan kanan kirinya, terlihat bibit-bibit mangrove-baru mulai ditanam oleh masyarakat setempat dengan tujuan “menghalau” rembesan air laut. Namun, kiranya usaha itu sudah sangat sia-sia dan sangat terlambat. Anakan mangrove ini, tentu saja tak cukup kuat pun bisa melindungi intrusi air laut ke rumah-rumah mereka. Kini, hampir semua rumah di Bedono telah terendam oleh air laut.

Tak hanya itu, bahkan makam, tempat terakhir mereka (baca: kita) di alam fana ini, yang seharusnya menjadi peristirahatan terakhir nan nyaman, juga tak ayal lagi terendam oleh dinginnya air laut (lihat foto kedua -bawah-).

Bedol Desa (BD), adalah jalan terakhir yang pada akhirnya dipilih untuk menyelamatkan masyarakat Bedono dari ancaman air laut yang sewaktu-waktu bisa mencelakai (baca: meneggelamkan) mereka. Maka, satu desa telah dibedol dengan cara memindahkan warganya ke tempat lainnya yang lebih aman. Namun demikian, BD saja, tak akan pernah cukup! Pola pikir masyarakatlah yang sewajibnya dirubah. Masyarakat yang masih menganggap mangrove adalah sebuah ekosistem tanpa guna dan baru berguna setelah ditebang dan disulap menjadi tambak ikan, harus segera “ditebas.” Hanya dengan perubahan pola pikir seperti inilah, di masa mendatang wilayah pesisir Indonesia bisa diselamatkan sehingga terhindar dari kerusakan.

Kembali ke pertanyaan semula, “Apa yang ada di benak Anda setelah melihat dan mencermati foto di atas, ini?” Silahkan krimkan pendapat Anda ke email kami di kesemat@yahoo.com. Atau, sebuah komentar bagi artikel ini, untuk menciptakan kampanye pertambakan yang sehat, bisa Anda tuliskan pula di bagian komentar. Kami hanya mengingatkan, bahwa bila Anda tinggal di wilayah pesisir, dan jika Anda terus saja memperlakukan ekosistem mangrove Anda secara buruk dan semena-mena seperti ini, maka yakinlah musibah yang menimpa Bedono, sewaktu-waktu bisa menimpa diri Anda!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s