Menyuluh tak pernah jenuh

Menjadi tenaga penyuluh, itulah pekerjaan kami. Bukan sembarang tenaga penyuluh, melainkan tenaga penyuluh mangrove, yang bagi sebagian orang masih-sangat dipandang sebelah mata. Sebenarnya bukan kaminya (sebagai tenaga penyuluh) yang dianggap “rendah,” melainkan obyek yang kami suluh, yaitu mangrove-nya yang masih saja disepelekan. Kenyataan ini membuat kami sedih dan sangat terpukul. Sebuah kenyataan bahwa di tahun 2008 ini, sebagian besar masyarakat kita masih saja memandang mangrove sebagai sebuah ekosistem tak berguna, sungguh sangat menyesakkan dada kami. Ini berarti, masih banyak sekali, masyarakat kita yang tak tahu mangrove sama sekali.


Padahal, kami sudah mulai menyuluh mangrove dari tahun 2001 sampai dengan sekarang. Dengan pola regenerasi kabinet yang tak pernah putus selalu kami lakukan di setiap tahunnya, pada setiap generasi pula, kami telah menyuluh rata-rata 1000 orang per tahunnya. Jadi, apabila dihitung secara kasar, tujuh tahun terakhir ini, kami telah menyuluh mangrove ke 7000 individu manusia. Tak banyak memang, namun mengingat umur kami yang masih seumur jagung, sepertinya jumlah segitu sudah lumayan banyak.

Fakta tentang masih tak banyaknya masyarakat kita yang mengetahui arti penting mangrove, terbukti dalam sebuah peristiwa tak mengenakkan sewaktu kami telah menyelesaikan pekerjaan kami, sebagai Guru Mangrove bagi Adik-adik kami di lima buah SMA di Semarang. “Road show” pengajaran dan penanaman mangrove dalam program Mangrove Conservation (MANGCON) 2008: Gerakan Bersih Pantai dan Laut (GBPL) hasil kerjasama KeSEMaT dengan Dinas Kelautan dan Perikanan Pemerintah Kotas Semarang dan LSM BINTARI itu, memang berjalan dengan sukses dan lancar di tingkat pelajar, namun, tidak di tingkat masyarakat sekitarnya!

Kami sangat kaget, saat mengetahui bahwa Avicennia spp yang tumbuh lebat di belakang SMA Sultan Agung yang notebane adalah tempat pengajaran mangrove kami, telah ditebangi. Parahnya, penebangan dilakukan sehari sebelum acara penanaman dimulai. Bayangkan, betapa shock-nya, kami.

Saat kami bertanya kepada seorang bapak yang mengetahui tentang penebangan tersebut, dia menjelaskan bahwa Api-api telah ditebang oleh seorang Ibu-ibu, untuk kayu bakar. Dia juga menjelaskan bahwa warga sekitar telah terbiasa menebangi mangrove untuk keperluan itu. Toh kata dia, Api-api tak ubahnya seperti semak belukar liar yang tak ada gunanya. Daripada mengganggu pemandangan pertambakan, lebih baik ditebang, saja. Astagfirullah!

Kami sadar, bahwa walaupun kami telah berhasil memberikan pengertian tentang mangrove dengan baik kepada para generasi muda, namun tidak demikian di generasi tuanya. Ternyata, masyarakat Jawa Tengah yang belum tahu tentang mangrove masih bejibun. Ini berarti, pekerjaan rumah kami masih banyak, perjalanan kami masih sangat sangat sangat panjang.

Fakta tentang ini, sempat membuat kami agak putus asa. Bagaimana mungkin dengan tenaga dan personil kami yang sedikit ini, kami mampu menyadarkan beribu-ribu bahkan jutaan manusia di bumi ini untuk mulai menyayangi dan mencintai, mangrovenya (?).

Sebuah pertanyaan besar seringkali menggema di benak kami. “Apakah mungkin, kami bisa menyadarkan semua umat manusia di bumi ini untuk mulai menyayangi dan mencintai mangrovenya?” Sebuah kemustahilan untuk mampu memberitahu kepada semua umat di dunia ini akan arti pentingnya mangrove bagi kehidupan mereka, terus saja menghantui kami. Kami rasa, ini adalah sebuah usaha sia-sia yang tak mungkin pernah bisa kami lakukan. Untuk itulah, walaupun kami tahu bahwa putus asa adalah bukan sebuah tindakan yang tepat, seringkali rasa itu bergelayut dalam diri kami.

Namun, mencoba tak mau terlalu larut dengan segala permasalahan ke depan, sebuah idealisme dan tekad baja untuk terus melawan segala rasa keputusasaan itu, tak pernah surut juga, timbul dalam diri kami. Lihatlah foto di atas. Foto ini diambil oleh KeSEMaT tanggal 9 Agustus 2008 di halaman belakang SMA Sultan Agung 3 Semarang, pada saat kami mengimplementasikan program MANGCON) 2008 -GBPL. Kami menyuluh sekitar 500 orang dalam satu hari itu.

Penyuluhan kami adalah tentang bagaimana cara menanam mangrove yang baik dan benar. Dalam satu hari ini, kami menyuluh tiga kali. Pertama, saat kami memberikan briefing kepada para peserta sesaat setelah upacara selesai. Kedua, sebelum para peserta terjun ke lokasi penanaman dan ketiganya pada saat pembersihan dan perapian lokasi penanaman.

Tiga kali penyuluhan ini kami lakukan untuk memastikan bahwa para peserta mengetahui benar apa yang dilakukannya. Banyak kejadian penanaman mangrove yang gagal, hanya karena para penanamnya tak melakukan tata cara penanaman dengan baik dan benar. Sedimen tak ditanam dengan tepat, bibit tak diikat di ajir dengan tali rafia dan tak dilepasnya polybek dari sedimen bibit adalah tiga dari banyak kasus tata cara penanaman yang salah. Kami tidak ingin, hal-hal seperti ini terjadi pula pada mangrove kami, di hari ini.

Di akhir acara banyak peserta yang menjabat tangan kami seraya berkata, “Terima kasih Para Penyuluh Mangrove Yang Tak Pernah Jenuh.” Agak malu, kami pun berkata, “Terima kasih, MANGROVER. Maaf, telah membuat pakaian Anda terkotori lumpur. Maaf juga telah membuat kulit Anda terbakar matahari, perut Anda keroncongan, lidah Anda kehausan, kaki dan tangan Anda tercabik akar-akar mangrove yang ganas. Tapi, yakinlah Tuhan di atas sana tak akan pernah jenuh untuk membalas budi baik kalian terhadap mangrove, di hari ini.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s