Semarang – KeSEMaTWORDPRESS. Setiap kali mendampingi masyarakat pesisir, satu hal yang paling kami tunggu-tunggu adalah tersunggingnya sebuah senyuman bahagia dari mereka. Senyuman bahagia yang harganya memang sangat mahal, yang baru bisa kami dapatkan setelah kami bekerja keras meyakinkan mereka bahwa apa yang kami lakukan adalah baik dan bermanfaat bagi mereka. Tak terkecuali, di hari itu. Minggu, 31 Mei 2009 yang lalu, kami berkesempatan memfasilitasi para petambak Tugu Semarang, untuk melakukan studi banding ke Desa Pasar Banggi Rembang.

Di desa ini, ada sebuah kelompok tani mangrove yang sudah sukses mengelola pesisir pantainya dengan baik. Abrasi dan gelombang laut yang di tahun 50-an mengancam pertambakan bandeng dan garam mereka, di tahun 2009 ini sudah tidak pernah terjadi, lagi. Bahkan dengan lebatnya hutan mangrove hasil dari penanaman kembali ini, masyarakat setempat mampu meningkatkan taraf hidup dan perekonomian mereka. Apa pasal? Karena lebatnya hutan mangrove yang difungsikan sebagai sabuk hijau pantai, telah memberikan banyak manfaat bagi mereka. Satu diantaranya adalah sebagai pelindung abrasi dan tambak dari angin topan dan badai.

Selain itu, masih ada manfaat lain dari lebatnya hutan mangrove di Pasar Banggi. Usaha pembibitan mangrove yang telah dirintis sejak puluhan tahun yang lalu, kini juga telah berjalan dengan baik, dimana sepanjang tahun, Kelompok Tani Sidodadi Maju pimpinan Bapak Suyadi (Pak Yadi), selalu saja kebanjiran order pengiriman bibit mangrove ke seluruh wilayah di Indonesia. Usaha penjualan bibit mangrove untuk tujuan rehabilitasi ini, telah banyak memberikan keuntungan secara ekonomi, bagi mereka.

Tak hanya itu, masyarakat Pasar Banggi juga tidak pernah kesulitan lagi, dalam mencukupi kebutuhan pangannya sehari-hari. Untuk mendapatkan lauk pauk, mereka tidak perlu pergi ke pasar namun cukup dengan memancing dan memanen ikan di hutan mangrove, yang berada di belakang rumah mereka. Setiap hari, ikan dan udang seolah tak pernah habis untuk dikonsumsi.

Usaha lain yang tak kalah pentingnya adalah optimalnya hasil panen tambak garam dan bandeng mereka. Hasil panen kedua tambak mereka yang selalu melimpah di hampir setiap tahun ini, tak lain dan tak bukan adalah berkat perlindungan hutan mangrove sebagai sabuk pantai. Tak seperti para petani tambak di Tugu, para petani tambak di Rembang, tidak perlu lagi memusingkan berbagai upaya untuk melindungi pertambakan mereka dari gerusan air laut.

Pertambakan di Rembang memang sudah sangat sangat sangat aman karena sudah terlindungi oleh lebatnya pepohonan dan rapatnya perakaran mangrove. Untuk itulah, sekarang ini, mereka tak pernah pusing lagi untuk memikirkan bagaimana caranya agar tambak mereka aman dari abrasi. Mereka hanya fokus pada usaha pengoptimalan pertambakan mereka. Karena hal yang demikian inilah, selain kesejahteraan desa kecil ini terjamin, puluhan penghargaan lingkungan dari pemerintah Republik Indonesia, juga tak pernah luput dianugerahkan kepada mereka.

Hal-hal seperti ini, belum terjadi di Tugu. Maka, dengan memperhatikan berbagai hal di atas, setelah melakukan studi banding ini, kami mengharapkan adanya peningkatan semangat dan kemauan dari petambak Tugu untuk mengelola pesisir pantainya. Kondisi pesisir Tugu yang sangat mengkhawatirkan, dimana abrasi sudah tak bisa terbendung lagi sehingga menenggelamkan tambak-tambak mereka, diharapkan menjadi pelecut semangat mereka agar sesegera mungkin melakukan hal yang sama, seperti yang telah dilakukan oleh Rekan-rekan mereka di Rembang, ini.

Sebelum berangkat, memang ada sebuah pesimistis yang kami lihat di wajah-wajah mereka. Sebuah pertanyaan tentang apa faedahnya studi banding ini bagi mereka, seringkali ditanyakan kepada kami. Tak banyak komentar yang kami jawabkan, kecuali sebuah permintaan kepada mereka untuk sedikit bersabar dan menunggu hingga rombongan yang berjumlah kurang lebih 30-an petambak ini, sampai di kediaman Pak Yadi.

Jawaban seperti ini kami sampaikan, karena kami yakin bahwa apabila para Bapak-bapak petambak Tugu ini bertemu dengan Pak Yadi dan kelompok taninya, maka pemikiran mereka yang selama ini masih belum banyak mengetahui tentang fungsi dan manfaat mangrove, sedikit demi sedikit akan mulai terbuka.

Dan apa yang kami yakini ini, benar adanya. Sesampai di Rembang, setelah mereka bertemu langsung dengan Pak Yadi dan kelompok taninya, sedikit demi sedikit rasa pesimistis yang mereka rasakan saat di bus, perlahan mulai hilang. Bahkan, tanpa kami komando, mereka dengan antusias menanyakan berbagai hal mengenai manajemen kelompok, pemberdayaan masyarakat, pengaturan keuangan, teknik rehabilitasi mangrove dan lain-lain.

Perubahan persepsi terhadap studi banding, yang dialami oleh rombongan membuat kami sedikit bisa tersenyum lega. Apalagi, saat berada di lapangan, sewaktu Pak Yadi menjelaskan berbagai teknik pembibitan dan penanaman mangrove, mereka dengan tenang dan tekun mencermati setiap informasi yang ditularkan Pak Yadi kepada mereka.

Sampai di sebuah titik, dimana gelombang laut seolah tak menampakkan kekuatannya, banyak yang bertanya kepada kami dan Pak Yadi, mengapa di Pasar Banggi, “tak ada gelombang besar” sama sekali. Saat kami memberitahukan bahwa akar-akar mangrove yang berjajar sejauh 1 kilometeran-lah yang telah memecah kekuatan gelombang laut tersebut, seolah mereka baru tersadar dari tidur panjangnya, bahwa betapa berartinya fungsi mangrove dalam memecah gelombang sehingga saat sampai di darat, kekuatan gelombangnya menjadi sangat kecil. Dengan proses inilah, maka akar-akar mangrove mampu menanggulangi abrasi.

Setelah mendapatkan penjelasan singkat ini, nampak wajah-wajah yang tadinya banyak guratan pesimisnya, kini berubah drastis. Sebuah raut muka optimistis dan senyuman lebar, mulai menghiasi wajah mereka yang nampak bahagia. Rasa bahagia dan senang ini semakin menjadi setelah mereka bertemu dengan Ibu-ibu yang sedang bekerja mempersiapkan Rajungan untuk dijual di hotel terdekat sebagai hidangan sea food yang mahal. Para Ibu menjelaskan bahwa Rajungan ini tak akan mungkin bisa dipanen tanpa adanya mangrove di pesisir Pasar Banggi. Sebuah tempat untuk berpijah, berkembang biak, membesarkan anaknya dan bertelur kembali, memang sangat dibutuhkan oleh hewan-hewan laut. Dan hutan mangrove, adalah sebuah tempat, itu.

Setelah perjalanan sehari ke Rembang, di saat pulang kembali ke Semarang, para petambak mengucapkan banyak terima kasih kepada kami, karena di hari itu mereka mendapatkan sebuah pelajaran yang sangat berharga untuk diterapkan di desa mereka, Tugu Semarang. Bahkan, mereka juga memuji kami, kalau saja tidak ada kami, maka mata dan pikiran mereka mungkin belum bisa terbuka lebar, seperti sekarang.

Sebelum berpisah, para petambak Tugu kembali tersenyum sembari mengucapkan tekad untuk bekerja bersama dengan kami dalam menyelamatkan desa dan tambak-tambak mereka dari amukan air laut. Ah, betapa berharganya senyuman itu, bagi kami. Tak ada yang lebih berharga lagi, selain sunggingan kecil senyuman masyarakat pesisir. Akhirnya, setelah menunggu seharian, hal paling berharga itu, berhasil kami dapatkan. Salam MANGROVER!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s