Menembus Hujan Menemui Mangrove

Semarang – KeSEMaTWORDPRESS. Sewaktu ada wartawan sebuah surat kabar datang ke Kantor kami, dan menanyakan mengenai pengalaman apa yang paling nggak banget (begitu istilah sang Wartawan), kami menjawabnya dengan menceritakan sebuah pengalaman-kecil, sebuah peristiwa yang bagi kami sebenarnya bukan nggak banget, tapi biasa banget. Kami menyebutnya dengan dua kata terakhir ini, karena selama bekerja dengan mangrove dan menyusurinya ke seluruh pelosok Indonesia, hal seperti ini sudah terbiasa kami alami.

Kali ini, peristiwanya terjadi di saat kami hendak menuju ke Surodadi Demak, guna mengadakan pelatihan mangrove sekaligus bersarasehan (Mangrove Training (MT) 2009 – lihat foto di atas) dengan petani tambak, di sana.

Berangkat dari Kantor KeSEMaT dengan menggunakan angkutan yang kami sewa dengan cara patungan, cuaca saat itu sangatlah bersahabat. Tak nampak, cuaca akan berubah begitu cepat, beberapa jam kemudian. Pukul 14.00 WIB, rombongan menuju ke Demak. Para KeSEMaTERS tak semuanya menaiki angkutan. Karena jumlah kami mencapai tiga puluhan lebih, maka bermotor menjadi sebuah pilihan yang tepat bagi KeSEMaTERS lainnya. Tak ada kejadian berarti yang terjadi di awal keberangkatan kami, hingga saat setengah jam kemudian, secara tiba-tiba hujan turun begitu derasnya.

KeSEMaTERS yang berada di angkutan, kiranya tak terlalu mengalami efek yang berarti dengan hujan ini. Namun, bagi KeSEMaTERS yang bermotor, hujan yang awalnya rintik-kecil namun dengan cepatnya berubah menjadi rintik-besar, adalah sebuah kendala besar. Apa pasal? Sebuah kesepakatan antara KeSEMaT dengan kelompok petambak di Surodadi, agar kami sudah harus sampai di sana, tak kurang dari pukul 16.00 WIB, agaknya menjadi sebuah permasalahan. Walaupun tidak ada keharusan kami harus sampai tepat waktu, tapi mengingat janji yang kemarin sudah kami buat dengan mereka, tentu saja kami tidak mau mengecewakannya.

Berisitirahat sebentar di sebuah pertokoan adalah hal pertama yang kami lakukan untuk menghindari hujan. Dan, pada saat itu, jam di tangan telah menunjukkan pukul 15.15 WIB. Perjalanan menuju Surodadi, normalnya membutuhkan waktu sekitar dua jam. Dan, di jam segini, kami masih berada di Genuk Semarang, yang berarti baru sepertiga perjalanan. Kalau kami memutuskan untuk menunggu hujan sampai benar-benar reda, maka tak akan mungkin kami sampai di Surodadi pukul 16.00 WIB, tepat. Ini berbahaya!

Untuk itulah, tanpa pikir panjang lagi, kami segera mengeluarkan mantel dan menggenjot motor kami yang masih berasap, menembus hujan, menemui mangrove. Kepulan asap yang banyak keluar dari mesin motor kami, tak kami hiraukan lagi. Tujuan kami satu, sampai di Surodadi secepatnya. Selain sudah menjadi kesepakatan bersama, alasan utama mengapa pukul segitu kami harus sudah sampai di sana adalah adanya pendirian tenda dan ramah tamah sebentar dengan perangkat desa Surodadi, sebelum sarasehan dimulai pukul 19.00 WIB.

Perjalanan menembus hujan di hari itu, sungguh sebuah peristiwa yang sulit dilupakan. Jalan penuh lubang, kendaraan proyek yang keluar masuk padat merayap, belum lagi kondisi rob di jalanan, membuat kami harus ekstra hati-hati dalam mengendarai motor. Tak terlalu pelan tapi juga harus cepat-cepat karena mengejar janji kami ke petambak Surodadi, kami memilah-milih jalan yang bisa aman untuk dilalui.

Selesai keluar dari Genuk, kini kami memasuki Demak. Untuk sampai di Surodadi, kami harus memasuki jalan setapak beraspal-tanah yang berlubang, yang kini menjadi sangat becek karena hujan. Masih di tengah-tengah hujan yang sangat deras, berkali-kali kami harus berhenti untuk mendorong motor kami. Ini karena batu-batu besar yang mendominasi jalanan, membuat roda motor kami tak kuasa untuk melaluinya. Adanya permintaan dari KeSEMaTERS untuk berhenti sejenak karena tak kuat menahan kencingnya, terpaksa tak kami setujui.

“Tak ada waktu lagi untuk berhenti, perjalanan harus dilanjutkan atau janji kita tak tertepati. Kira-kira setengah jam lagi kita sampai. Tahan dulu. Kita harus terus berjalan, menembus hujan,” begitu teriak salah seorang KeSEMaTERS di tengah derasnya hujan.

Dan begitulah. Perjalanan para KeSEMaTERS menembus hujan, terus berlangsung. Guncangan demi guncangan yang menimpa tubuh kami, terus saja kami lalui. Bahkan beberapa kali, KeSEMaTERS yang dibonceng hampir saja terloncat dari tempat duduknya, karena motor menabrak bebatuan besar sehingga oleng dan tak bisa dikendalikan. Sementara itu, KeSEMaTERS lainnya nampak masih menahan kencingnya. Wajah kesakitan tak bisa disembunyikan dari raut mukanya yang disamarkan dengan senyuman.

Saat itu, mantel pelindung hujanpun sudah tak mampu lagi menolong kami. Seluruh tubuh kami basah kuyup, tanpa kecuali. Tak sampai di situ, cipratan lumpur juga tak pernah berhenti menerpa paha dan sekujur badan kami. Dan, air hujan yang masih saja deras, tak henti-hentinya mengguyur deras, kepala kami.

Akhirnya, setelah melalui beragam rintangan alam itu, kami sampai juga di Surodadi, sebelum pukul 16.00 WIB. Rombongan KeSEMaTERS, baik yang naik motor maupun yang naik angkutan, keduanya sampai di Balai Desa Surodadi, tak berselang lama. Alhamdulillah, walaupun dihujani dengan beragam rintangan di jalan, akhirnya kami berhasil juga menepati janji kami.

Para KeSEMaTERS nampak senang dan bahagia namun agak terkaget-kaget dan menyangka di hari itu, kami baru saja diuji nyali dan mental kami oleh-Nya. Pemikiran ini sempat timbul, karena di saat motor kami tepat sampai di halaman Balai Desa Surodadi, tiba-tiba saja hujan mendadak berhenti. Seolah satu komando, begitu motor dimatikan mesinnya, saat itu juga hujan yang tadi mengguyur tubuh kami begitu derasnya, perlahan-lahan reda.

Kami berbisik memperbincangkan tindakan Tuhan kepada kami. “Kiranya Tuhan tahu, bahwa kita tak takut apalagi jera dengan hujan dan angin kencang. Agaknya, Tuhan juga tahu bahwa kita ini telah juga berhasil menempuh cobaannya, makanya begitu kita sampai di sini, Tuhan langsung memberhentikan hujan-hujannya. Dia tak tega lama-lama menguji kita, karena kita memang orang baik yang berani menembus hujan demi menemui mangrove,” begitu kata seorang KeSEMaTERS yang diamini oleh KeSEMaTERS lainnya.

Setelah ikut mengamini, tak berapa lama kemudian, teman kami yang sedari tadi menahan kencingnya, langsung saja kabur menuju ke rumah penduduk, mencari kamar kecil. Semoga tak terjadi apa-apa dengannya. Salam MANGROVER!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s