Pesisir yang Rawan Konflik

Semarang – KeSEMaTWORDPRESS. “Tiada Hari Tanpa Cemburu,” itu mungkin sebuah kalimat yang tepat untuk disematkan kepada beberapa Kelompok Tani Tambak dan Mangrove (KTTM) di pesisir Utara Jawa. Di dua lokasi, kami sempat menemukan bahwa terdapat kecemburuan yang sangat besar, antara KTTM yang satu dengan KTTM yang lainnya. Salah satu alasan yang menyebabkannya, tak lain dan tak bukan adalah alasan ekonomi.

Memang, selama bekerja di mangrove, selama kurun waktu delapan tahun terakhir ini, pengalaman kami menunjukkan bahwa di balik indahnya tegakan batang-batang Rhizophora (lihat foto di atas), nasib masyarakat pesisir kita tidak indah alias rawan konflik. Konflik tak hanya terjadi di dalam diri KTTM sendiri, tetapi juga terjadi antara KTTM-KTTM tadi, dengan pihak luar.

Untuk kasus yang pertama, rata-rata konflik terjadi karena satu KTTM merasa diperlakukan tidak adil oleh KTTM lainnya yang “sudah mapan.” Salah satu contoh, di suatu daerah pesisir yang pernah kami singgahi, ada sebuah KTTM yang selalu saja merongrong keberadaan KTTM lainnya, yang “sudah mapan” dan berprestasi di tingkat nasional.

Rongrongan yang dilontarkan, umumnya adalah tindakan hasutan dan tak mau bekerjasama dalam pelaksanaan pekerjaan rehabilitasi mangrove apabila KTTM yang “sudah mapan,” diikutsertakan. Rasa cemburu yang amat sangat ini terjadi, selain karena sikap egoisme organisasi juga adanya anggapan bahwa kelompoknya lebih baik dibandingkan dengan KTTM yang “sudah mapan.” Dengan demikian, mereka beranggapan bahwa dana rehabilitasi mangrove sebaiknya diserahkan kepada mereka untuk dikelola, tanpa mengikutsertakan KTTM yang “sudah mapan.”

Sikap seperti ini, tentunya sangat disayangkan, mengingat pengelolaan pesisir di pantai Utara Jawa memerlukan kerjasama dari berbagai pihak. Apabila KTTM sendiri yang notabene adalah pelaku utama pekerjaan rehabilitasi mangrove tidak bisa ber-sinergi, maka bagaimana mungkin program-program konservasi mangrove di pesisir Utara Jawa akan bisa berhasil secara maksimal (?).

Selanjutnya, seperti yang telah kami sampaikan di atas bahwa konflik tak hanya terjadi di dalam KTTM sendiri tetapi juga berlangsung antara KTTM dengan pihak luar. Beberapa KTTM, kini mulai menunjukkan sikap antipatinya terhadap oknum LSM tertentu, yang seringkali membuat mereka kecewa karena hanya memperlakukan mereka sebagai obyek dan bukan subyek proyek-proyek mangrovenya.

Menurut mereka, setelah melakukan pendekatan dengan KTTM dan berhasil mendapatkan data-data yang diperlukan untuk penyusunan anggaran proyek mangrove mereka, maka oknum LSM tersebut dengan seenaknya tidak mengerjakan program penanaman mangrove di daerah KTTM, pun melibatkan mereka pada saat proses penanaman dan pemeliharaan mangrove, melainkan lebih memilih mitra kerja sang Oknum LSM yang lain.

Hal-hal seperti inilah, yang membuat beberapa KTTM di beberapa pesisir Utara Jawa kecewa sehingga di tahun 2009 ini, mereka menolak kehadiran LSM di daerah mereka.

Itulah beberapa hal yang kiranya perlu kita cermati bersama, sebelum kita mengadakan program-program pendampingan dan pemberdayaan masyarakat yang (memang) akhir-akhir ini, marak dilakukan oleh organisasi-organisasi pemerintah dan non pemerintah, semisal LSM.

Diharapkan, hal-hal seperti ini bisa kita jadikan pedoman untuk dicermati bersama, sebelum melakukan proses pendampingan ke masyarakat, tak hanya di pesisir Utara Jawa, tapi di seluruh wilayah Indonesia dan dunia. Amin. Salam MANGROVER!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s