Dua Pendekatan Proyek Rehabilitasi Mangrove

Semarang – KeSEMaTWORDPRESS. Apabila kita bekerja dalam dunia mangrove, maka setidaknya terdapat dua buah pendekatan dalam proyek rehabilitasi mangrove yang ada di negeri ini. Ada satu institusi yang seringkali menjalankan proyeknya dengan cara menyosialisasikan anggarannya terlebih dahulu, baru kemudian memberitahukan konsep proyek rehabilitasi mangrovenya ke masyarakat. Sementara itu, ada juga institusi lainnya yang lebih memilih untuk mengedepankan program sosialisasinya terlebih dahulu, baru kemudian menginformasikan tentang anggarannya.

Tak berusaha untuk membandingkan mana yang lebih baik, memang kedua konsep ini, sejatinya sah-sah saja apabila diterapkan. Toh, tujuan akhirnya adalah sama, demi menyejahterakan kehidupan masyarakat pesisir kita.

Namun, kiranya perlu diingat bahwa apabila pilihan pertama yang dijalankan, maka sebuah kekhawatiran akan adanya ketidaktulusan dalam menjalankan proyek rehabilitasi mangrove, kecuali karena uang semata, kiranya patut dicatat dengan tinta merah. Anggaran dana yang dilontarkan duluan, agaknya akan menjadikan sebuah iming-iming besar yang bisa saja mengaburkan jiwa-jiwa swadaya masyarakat pesisir.

Hal seperti ini, dalam jangka panjang ditakutkan akan bisa merubah persepsi masyarakat akan pentingnya sikap berswadaya dan bergotong royong dalam mengelola kawasan pesisirnya. Padahal, setiap kali diadakan, tujuan utama proyek rehabilitasi mangrove adalah untuk memupuk jiwa gerakan moral masyarakat pesisir kita agar mau dan mampu berusaha mengelola kawasan pesisirnya dengan usahanya sendiri tanpa terlalu menggantungkan bantuan orang lain.

Selanjutnya, pilihan kedua, sepertinya lebih tepat untuk dilakukan karena sangat membuka kesempatan bagi hadirnya sebuah inisiatif dari warga pesisir sendiri untuk mau bekerja secara mandiri tanpa mengandalkan uang semata. Tanpa diiming-imingi dengan anggaran, sebuah data tentang kondisi ekosistem mangrove yang ada di daerah mereka yang disosialisasikan terlebih dahulu, diharapkan bisa memancing reaksi mereka untuk bersikap proaktif dalam memecahkan permasalahan sehingga timbul rasa tanggung jawab terhadap alam pesisirnya dengan usahanya sendiri.

Sebuah kasus yang bisa dipastikan terjadi apabila pilihan pertama kita ambil adalah setelah proyek rehabilitasi mangrove selesai dijalankan – misalnya tiga tahun – maka, masyarakat dikhawatirkan akan malas menjaga kelulushidupan bibit-bibit mangrovenya karena dana sudah habis untuk membiayai jasa mereka dalam memelihara bibit-bibit mangrove, tersebut.

Sebaliknya, apabila pilihan kedua yang dipilih, maka walaupun dana telah habis untuk membayar honor warga dalam menjaga mangrove-mangrovenya, maka hal ini tidaklah menjadi sebuah masalah, karena warga bisa meneruskan program pemeliharaan mangrovenya secara mandiri dengan usahanya sendiri.

Pertanyaannya sekarang, pendekatan proyek rehabilitasi mangrove manakah yang akan kita pilih (?). Kami rasa, Anda sendiri sudah mengetahui mana pilihan yang lebih bijak. Salam MANGROVER!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s