Bersama Rimbawan Muda: Sepenuh Hati Merehabilitasi Hutan Mangrove di Pulau Sembilan, Sumatera Utara

Pulau Sembilan – KeSEMaTWORDPRESS. Adalah Bapak Onrizal (onrizal03@yahoo.com), seorang Dosen Ekologi Hutan, Dept. Kehutanan USU, & Pendiri Komunitas Pelestari Mangrove, yang telah menginformasikan kepada KeSEMaT tentang program rehabilitasi mangrove yang telah dilaksanakan olehnya dan komunitasnya di Pulau Sembilan, Sumatera Utara. Berikut ini adalah resume hasil kegiatan yang telah ditulisnya untuk Jaringan KeSEMaTONLINE.

Selamat menikmati. Semoga bisa berguna sehingga mampu melecut semangat Anda semua, untuk turut serta bersama KeSEMaT, KeMANGTEER, IKAMAT dan para Rekan-rekan kami di seluruh Indonesia dan dunia dalam menyelamatkan ekosistem mangrove di seluruh bumi.

Hasil inventarisasi BP DAS Wampu Sei Ular tahun 2006 diketahui tidak sampai 10% hutan mangrove dalam kondisi baik di Kab. Langkat. Selebihnya dalam kondisi rusak dan rusak berat. Konversi hutan mangrove dan penebangan hutan mangrove yang berlebihan menjadi penyebab utama kerusakan hutan mangrove di wilayah tsb dan juga wilayah lain di Indonesia (JICA & RLPS, 2005) dan bahkan 35% kerusakan hutan mangrove di dunia (Valiela et al., 2001).

Hutan mangrove di sepanjang pantai dan sungai-sungai yang terdapat dalam hutan mangrove menyediakan habitat bagi berbagai hasil perikanan pantai, seperti ikan, udang, kepiting, dsb. Lebih dari 80% jenis ikan laut baik komersial maupun untuk hiasan di Florida, AS sangat tergantung pada keberadaan hutan mangrove pada beberapa tahapan kehidupan biota laut tersebut (Hamilton & Snedaker, 1984). Hutan mangrove juga berkontribusi terhadap 67% hasil tangkap nelayan di Australia bagian timur (Hamilton & Snedaker, 1984), 49% ikan demeresal yang tertangkap di Selat Malaka bagian tenggara (Macinthos, 1982).

Kerusakan mangrove di Kab. Langkat telah memicu hilangnya Pulau Tapak Kuda, meningkatkan laju abrasi (Onrizal & Kusmana, 2008), serta menurunnya hasil tangkap dan sekaligus mengurangi pendapatan nelayan sampai 45% (Purwoko, 2005; Onrizal et al. 2009). Oleh karena itu, rehabilitasi hutan mangrove yang rusak menjadi sangat mendesak untuk dilakukan.

Pada 14 Juni 2009 lalu, saya bersama Rimbawan muda, mahasiswa semester 4 Dept. Kehutanan USU melakukan penanaman mangrove yang rusak di Pulau Sembilan, Pangkalan Susu, Langkat, Sumatera Utara. Areal yang menjadi sasaran rehabilitasi adalah areal tambak milik Bapak Grendel. Areal tambak tersebut sudah tidak produktif lagi untuk budidaya ikan maupun udang. Sebagian kecil areal lainnya digunakan Bapak Grendel untuk budidaya kepiting yang masih bisa bertahan.

Pada pagi hari itu telah ditanam 1.000 dari 3.000 bibit mangrove bantuan Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Langkat. Sisa bibit lainnya (2.000) ditanam oleh grup kedua rimbawan muda yang melakukan praktek di Pulau Sembilan. Rencananya 3.000 bibit mangrove jenis Rhizophora apiculta tsb  akan ditanam sekaligus, namun karena bibitnya datang terlambat dan air lagi surut sehingga tidak memungkin untuk membawa keseluruhan bibit ke lokasi penanaman.

Selain mendapat dukungan penuh dari Dinas Kehutanan dan Perkebunan Langkat, kegiatan ini juga didukung sepenuhnya oleh pemerintah Desa Pulau Sembilan berserta tokoh masyarakat dan masyarakat pulau tersebut. Mereka berharap kegiatan ini dapat dilakukan secara terus-menerus bersama masyarakat dan pemerintah untuk memulihkan kondisi mangrove di kawasan tersebut yang sekarang telah rusak.

Sebelumnya pada bulan April 2009, saat membimbing mahasiswa kehutanan USU praktek m.k. Ekologi Hutan (Semester 4) dan Dendrologi (Semester 2) juga dilakukan kegiatan penanaman mangrove di Pulau Sembilan. Lokasi yang menjadi sasaran adalah pematang tambak dan tepi sungai atau pantai.

Dengan penuh senyum dan semangat, para peserta penanaman mangrove untuk rehabilitasi mangrove dengan pola sylvofishery tsb menyelesaikan kegiatan penanaman dengan penuh suka cita. Semoga bibit yang ditanam tumbuh baik, sehingga hutan mangrove di kawasan tsb. kembali pulih dan kembali menjadi tempat biota pesisir pantai seperti ikan, udang, kepiting dan sebagainya untuk berkembangbiak dengan baik dan akhirnya kembali mampu meningkatkan pendapatan nelayan dan masyarakat pesisir. Semoga.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s