Aplikasi Konsep MANGROVE CAMP di MANGROVE REpLaNT 2009

Jepara – KeSEMaTWORDPRESS. Pada saat pelaksanaan MANGROVE REpLaNT 2009, satu hal yang sangat menarik minat para Peserta MR 2009 adalah hadirnya tiga orang trainer pelatihan pembuatan makanan dan minuman dari buah-buah mangrove. Hadirnya para Ibu yang memiliki latar belakang berbeda ini, telah membuat suasana MR 2009 kali ini, semakin semarak dan menarik untuk dinikmati.

Hadirnya Ibu Diah Kartika, Ibu Diah Ilminingtyas dan Ibu Lulut Sri Yuliani sebagai trainer Pelatihan Pembuatan Makanan dan Minuman Berbahan Baku Buah Mangrove, tak lepas dari peranan salah seorang KeSEMaTERS yang juga merupakan Pengurus Harian Ikatan Alumni KeSEMaT (IKAMaT), yaitu Sdr. Sapto Pamungkas (Programme Campaigner). Konsep MANGROVE CAMP yang diusungnya untuk bisa diimplementasikan dalam MR 2009, terbukti telah berhasil dan bermanfaat bagi para Peserta MR 2009 yang berasal dari seluruh bagian di Indonesia.

Bapak Heru, salah seorang Peserta MR 2009 yang berasal dari Dinas Kelautan dan Perikanan di Kalimantan Timur mengatakan bahwa setelah mengikuti pelatihan buah mangrove di MR 2009, pada saat kembali ke daerahnya, dia bertemu dengan masyarakat Samarinda yang menginginkan adanya pelatihan pembuatan makanan dan minuman dari buah mangrove di sana, seperti yang telah dilakukan oleh KeSEMaT di MR 2009. Minat masyarakat Samarinda akan pelatihan makanan dan minuman mangrove yang begitu besar, membuktikan bahwa MR 2009 sangat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat. Dan, direncanakan KeSEMaT dan para trainer MR 2009 akan membantu Bapak Heru, untuk melakukan penyuluhan mangrove dan pelatihan pembuatan makanan dan minuman dari buah mangrove ini, di sana.

Di bagian pertama pelatihan MR 2009, dipraktekkan tentang metode pembuatan sabun mangrove dari buah Sonneratia alba. Ibu Lulut dari Rungkut Surabaya, dengan cekatan mempraktekkan bagaimana teknik pembuatan daging buah Pidada itu menjadi pasta, cikal bakal sabun mangrove. Pelatihan selanjutnya, yaitu pembuatan bahan makanan dan minuman dari buah-buahan mangrove, disajikan dengan sangat menarik oleh dua orang Ibu dosen dari Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Tujuh Belas Agustus (UNTAG), Semarang. Keduanya mendemonstrasikan bagaimana teknik pembuatan cake, kerupuk, dodol, manisan, jus, kue bolu, sirup, jenang, cuka dan bahan makanan dan minuman lainnya.

Tak hanya berhenti di pelatihan makanan dan minuman mangrove saja, peranan Programme Campaigner IKAMaT ini, juga terlihat pada saat memoderatori pelatihan kedua, tentang metode rehabilitasi ekosistem mangrove. Sdr. Sapto Pamungkas (lihat foto di atas) mengajak para Peserta MR 2009 untuk menuliskan berbagai permasalahan lingkungan dan pesisir yang ada di daerah mereka masing-masing dalam sebuah kertas putih untuk kemudian didiskusikan secara bersama.

Sebelumnya, para Peserta MR 2009 dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu wilayah barat, tengah dan timur, sesuai dengan asal daerahnya masing-masing. Diskusi permasalahan pesisir dan mangrove di Indonesia ini, diadakan setelah pelatihan metode rehabilitasi mangrove yang disampaikan oleh para trainer dari KeSEMaT – IKAMaT, yaitu Bapak Muhamad Ikhsan Sri Hartadi, Bapak Arief Marsudi Harjo dan Bapak Aris Priyono, selesai dilakukan.

Konsep MANGROVE CAMP yang diaplikasikan dalam MR 2009, sejatinya adalah implementasi dari program Bayer Young Environmental Envoy (BYEE) 2009 berjudul “MANGROVE CAMP: How to be a Farmer of Mangrove, a Producer of Mangrove Soap and a Chef of Mangrove Fruits,” yang berhasil dimenangkan oleh Sdr. Sapto Pamungkas. Sebagai finalis, Pengurus Harian IKAMaT ini diwajibkan untuk mempraktekkan proposal yang sudah diajukan dan dipresentasikannya kepada PT BAYER Indonesia, beberapa waktu yang lalu. Maka, program konservasi tahunan KeSEMaT, berlevel nasional bernama MR, yang memiliki konsep serupa, digandeng sebagai “mitra” untuk mengimplementasikan proyek mangrovenya, ini.

Maka, MR 2009 ini, memang agak berbeda dengan MR-MR KeSEMaT yang lalu, dimana konsep penyuluhan dirubah menjadi pelatihan dengan memangkas kuota peserta menjadi hanya 30 peserta, saja. Pemangkasan peserta ini memang disengaja untuk memaksimalkan proses transfer ilmu dari para trainer KeSEMaT kepada para Peserta MR 2009 yang berasal dari seluruh penjuru Indonesia.

Konsep MANGROVE CAMP: How to be a Farmer of Mangrove, a Producer of Mangrove Soap and a Chef of Mangrove Fruits, memang kentara sekali di MR 2009 ini. MR KeSEMaT yang biasanya identik dengan konsep rehabilitasi massal yang melibatkan ratusan orang peserta, kali ini mulai dirubah untuk menitikberatkan kepada konsep pelatihan dengan cara memberikan berbagai praktek langsung bagaimana caranya (1) menjadi petani mangrove dengan cara membibitkan propagul mangrove, (2) menjadi pembuat sabun mangrove dengan cara merubah buah Pidada menjadi pasta, sebuah bahan bakal sabun mangrove dan (3) menjadi koki mangrove dengan cara memasak makanan dan minuman dari buah Sonneratia spp, Bruguiera spp, dan jenis buah lainnya.

Harapannya, setelah MR 2009 selesai, maka para Peserta MR 2009 bisa mempraktekkan secara mandiri berbagai ilmu dan pengetahuan mangrove yang telah didapatkan di MR 2009, seperti yang telah disampaikan oleh Bapak Heru, di atas. Salam MANGROVER!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s