Ayo, Sukseskan Gerakan Rehabilitasi Mangrove Mandiri – GERMANDI!

Semarang – KeSEMaTWORDPRESS. Memang, sudah tidak jamannya lagi, di tahun 2009 ini, program-program rehabilitasi mangrove terus menerus dipublikasikan ke masyarakat Indonesia dengan konsep terlalu “berat.” Konsep-konsep “pencekokan” informasi bahwa program rehabilitasi mangrove hanya mampu dilakukan dan dibiayai oleh pemerintah pusat melalui departemen dan dinasnya terkait, harus segera dihentikan.

Penghentian ini terkait dengan adanya sebuah pemikiran dari KeSEMaT dan para mitra kerjanya yang lain bahwa konsep top down sudah tidak bisa dan tidak layak lagi, untuk diaplikasikan ke masyarakat. Konsep ini, telah terbukti begitu memanjakan masyarakat peisisir Indonesia dengan uang, sehingga dalam jangka waktu yang singkat bisa serta merta merubah paradigma bahkan budaya warga sekitar tapak dengan sangat cepat, mengenai konsep penanaman dan pemeliharaan mangrove di pesisir.

Konsep top down, telah menghilangkan jiwa berswadaya masyarakat pesisir kita, untuk bisa saling tolong menolong dalam membantu pemulihan habitat mangrove dengan usaha mereka sendiri, secara mandiri. Kini, begitu konsep ini berkali-kali diaplikasikan, maka mereka tidak mau lagi menyisihkan sedikitpun uang gaji dan honor mereka untuk membiayai program rehabilitasi mangrove di pesisir mereka, apalagi langsung bekerja bakti menanam mangrove secara mandiri, apabila tidak ada instruksi dari dinas dan departemen lingkungan-terkait-mangrove, dari pusat.

Parahnya lagi, instruksi ini diartikan mereka sebagai sebuah “harga mati” bagi lahirnya sebuah budaya baru bernama “budaya menunggu uang.” Mereka tidak akan mau bergerak sendiri, sebelum uang dari pemerintah pusat cair dan diberikan kepada mereka, untuk merehabilitasi mangrove-mangrove di wilayahnya. Astaghfirullah!

Dalam sebuah pertemuan dengan warga untuk menyosialisasikan program gerakan moral rehabilitasi mangrove KeSEMaT, bertajuk “Gerakan Rehabilitasi Mangrove Mandiri” (GERMANDI) di pesisir Semarang, kami begitu terkejut mendapati bahwa sebagian warga di sana, sampai saat ini (4/9/09) belum juga berbuat apa-apa dalam menyelamatkan ekosistem mangrovenya dari kerusakan, kecuali menunggu uang yang dijanjikan oleh sebuah dinas dari pemerintah yang memang sedang mengimplementasikan proyek mangrove berkonsep top down mereka. Padahal, sudah beberapa bulan yang lalu, kami diundang untuk mengikuti sebuah penyuluhan sekaligus peresmian proyek rehabilitasi mangrove ini.

Pada saat kami bertanya, apakah yang menyebabkan, program rehabilitasi mangrove ini, tidak segera dijalankan? Sesuai dengan fakta di atas, mereka menjawab enteng, “Uang belum turun, Mas. Semua tahapan sudah dilakukan, tapi uang belum ada, untuk implementasi proyek. Kami masih menunggu uang dari pusat,” begitu jawab salah seorang warga yang kami temui.

Lalu, kami bertanya lagi kepada mereka, “Lalu, sampai kapan program penyelamatan mangrove ini akan dimulai, Bapak? Apakah tidak lebih baik warga bergotong royong menyokong pendanaannya secara mandiri terlebih dahulu?,” dengan santai mereka menjawab, “Sampai uangnya pemerintah turun, Mas. Kalau tidak ada uang, kami tidak mau bekerja. Kalau uang proyek tidak turun, ya proyeknya tidak akan dijalankan, Mas. Warga sini mana ada yang mau iuran begitu. Lagipula, ini kan proyek. Jadi, uangnya nunggu pemerintah.”

Begitulah jawaban mereka. Jawaban sebagian mayarakat pesisir Indonesia, yang di tahun 2009 ini, jiwa kesadaran akan alam pesisirnya, sudah mulai terkikis habis akibat hantaman konsep top down yang terus menerus dicecarkan ke pikiran mereka.

Lantas, kami kemudian membandingkan dengan konsep gerakan moral yang selama kurang lebih delapan tahun ini, kami praktekkan di sebuah desa kecil di Jepara, bernama Teluk Awur. Tak usah menunggu kucuran uang dari pemerintah, cukup dengan mengumpulkan para KeSEMaTERS dan KeMANGTEER beberapa jam di kantor kami, maka dua hari berikutnya, kami sudah membawa ribuan propagul dan bibit mangrove ke Teluk Awur, untuk kemudian melakukan pembibitan, penanaman dan pemeliharaan mangrove kami, secara mandiri.

Jangan tanya darimana kami mendapatkan dana untuk mengusahakan ribuan propagul dan bibit mangrove tadi. Kami yakin, Anda sudah bisa menebaknya. Memang, konsep gerakan moral yang kami anut, sangat memungkinkan bagi kami untuk dengan leluasa menyisihkan uang gaji, honor dan saku kami dan melakukan hal itu. Nyatanya, dengan konsep seperti ini, maka kurang lebih satu hektar lahan mangrove yang dulunya gundul, telah berhasil kami lebatkan kembali, sehingga sebuah penghargaan ADI BHAKTI dari Gubernur Jawa Tengah, juga telah berhasil kami dapatkan sebagai Insan Peduli Lingkungan Pesisir.

Maka, begitu kami mengetahui bahwa sebagian masyarakat pesisir di Semarang, mulai luntur jiwa gerakan moralnya, maka sedikit demi sedikit, kami mulai mengkampanyekan GERMANDI ini kepada mereka. Kami memberikan informasi bahwa semua dari kita tanpa mengandalkan kucuran dana dari pemerintah pun dari manapun, sejatinya sangat bisa dan sangat mampu untuk merehabilitasi wilayah pesisir kita secara mandiri.

“Kami saja, para mahasiswa yang tergabung dalam KeSEMaT mampu menyelamatkan ekosistem mangrove di Teluk Awur dari kerusakan. Maka, dengan konsep yang sama, kami yakin bahwa Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang tergabung dalam kelompok tani di sini, juga akan mampu melakukannya bahkan mungkin bisa lebih baik dari kami,” begitu penjelasan kami.

Selanjutnya, kami juga menginformasikan kepada mereka, bahwa di saat Sabtu dan Minggu atau di waktu hari-hari libur nasional, sudilah kiranya para kelompok tani ini, menyempatkan waktu mereka untuk mau melakukan kerja bakti mencari propagul dan bibit mangrove, kemudian membibitkannya lalu menanam dan memeliharanya, seperti yang telah kami lakukan di Jepara.

Untuk masalah biaya, kami mengharapkan kepada mereka agar tidak manja dan mau menyisihkan sebagian uang mereka ke kas kelompok taninya. Dari uang kas ini, mereka akan bisa membiayai program-program mangrove mereka secara mandiri. Yang perlu diingat adalah, sambil bersedekah demi mangrove dan lingkungan pesisir, hasil yang didapatkan nanti, juga akan bisa dinikmati oleh mereka, sendiri.

Apabila mereka mampu dan mau melaksanakan hal ini, maka (1) pertambakan mereka akan bisa dengan segera terselamatkan dari gempuran dahsyat gelombang laut penyebab abrasi. Tak hanya itu, bahkan (2) hasil tambak mereka juga akan meningkat akibat pulihnya ekosistem mangrove yang rusak, lalu (3) intrusi air asin ke darat juga bisa diperkecil intensitasnya dan (4) hasil-hasil baik lainnya.

Maka, disaat para mangrove benar-benar sekarat hidupnya, kita tidak boleh menunggu dan menunggu saja, tanpa melakukan apa-apa. Kita harus sesegera mungkin melakukan penyelamatan terhadapnya. Kita semua, tidak boleh saling menggantungkan apalagi menunggu satu sama lainnya, untuk mulai melaksanakan kegiatan pembibitan, penanaman dan pemeliharaan mangrove yang ada di sekitar kita.

Tak usah menunggu kucuran dana dari pemerintah, dengan semangat GERMANDI, kita pasti bisa menyelamatkan mangrove dengan anggaran dana yang asalnya dari iuaran kelompok kita sendiri! Mari kita lakukan program-program rehabilitasi mangrove kita secara mandiri, dengan usaha, tenaga dan dana, dari kita sendiri. Mari selamatkan ekosistem mangrove kita, SEKARANG!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s