Hasil Kelulushidupan Penanaman Mangrove FIF ASTRA dan KeSEMaT di Desa Tapak Semarang

Semarang – KeSEMaTWORDPRESS. Lihatlah foto di samping ini, di sela-sela kunjungan kerja kami di Desa Tapak Semarang, pada tanggal 3 Oktober 2009 yang lalu, kami menyempatkan diri untuk melihat hasil penanaman mangrove yang diinisiasi oleh sebuah perusahaan automotif FIF ASTRA Semarang yang kemudian menggandeng KeSEMaT dan Yayasan BINTARI serta masyarakat sekitar Desa Tapak, dalam mengimplementasikan programnya.

Walaupun konsep penanaman mangrove yang dilakukan hanyalah satu kali saja tanpa monitoring, namun hasilnya tidak begitu mengecewakan. Apabila dipersentase, maka tingkat kelulushidupan bibit mangrovenya mencapai 40%.

Selanjutnya, program pemeliharaan mangrove yang kemudian diserahkan oleh masyarakat sekitar, semakin memperbesar keyakinan bahwa kelulushidupan bibit mangrovenya akan bisa meningkat di masa mendatang. Memang, pada saat kami menyusuri pematang tambak yang kanan kirinya adalah lokasi penanaman bibit-bibit mangrove (lihat foto di atas), beberapa orang warga sekitar nampak menancapkan propagul-propagul mangrove baru, sebagai pengganti beberapa buah bibit mangrove yang nampak layu dan mati. Musim buah dua spesies mangrove, yaitu Rhizophora mucronata dan R. stylosa, sepertinya mempermudah mereka dalam mendapatkan propagul mangrove dan melakukan program penyulaman mangrove.

Satu permasalahan yang sangat mengganggu pertumbuhan bibit mangrove adalah adanya ulat mangrove yang kemudian menyebabkan daun-daun mangrove berlubang, layu dan jatuh ke tanah. Sebuah rencana untuk memberantasnya dengan menggunakan insektisida, saat ini masih menjadi wacana untuk diujicobakan. Selain ulat, hama lainnya, yaitu scale insect yang juga ditemukan di MECoK kami di Teluk Awur – Jepara, kiranya juga ditemukan di sini.

Perlu diketahui, bahwa dua hama ini adalah dua hama khas dan paling dominan yang kami temukan selama perjalanan kami bekerja menyusuri kawasan mangrove di pesisir pantai Kecamatan Tugu Semarang. Hampir di semua wilayah Tugu, kami jumpai dua hama ini. Dan, untuk penanggulangannya, masing-masing wilayah memiliki teknik dan tata caranya sendiri. Di Tugurejo, misalnya. Para petambak di sana sepertinya tidak terlalu memusingkannya dengan cara membiarkan hama ulat, karena sudah diketahui bahwa setiap tahun, siklus serangan ulat ini pasti terjadi dan menyerang bibit-bibit mangrove muda berusia tiga bulan sampai dengan satu tahun. Menurut mereka, serangannya yang hanya terjadi beberapa waktu saja, tak terlalu menyebabkan kematian bibit mangrove secara massal. Selain itu, mereka juga membasmi hama ini tanpa menggunakan insektisida melainkan hanya mematikannya dengan cara mengambilnya dari daun-daun mangrove secara satu persatu.

Program-program penanaman mangrove inisiatif bersama antar berbagai instansi seperti ini, yang dilakukan dengan konsep Gerakan Rehabilitasi Mangrove Mandiri (GERMANDI), sudah sewajibnya harus semakin banyak dilakukan oleh berbagai pihak di banyak tempat untuk membantu mangrove dalam mendapatkan hak hidupnya kembali. Salam MANGROVER!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s