Kisah Sedih Pesisir Trimulyo Semarang

Semarang – KeSEMaTWORDPRESS. Siang ini, 16 Februari 2010, kami kembali lagi ke Trimulyo untuk memeriksa lokasi penyulaman program mangrove kami, yaitu Mangrove Restoration (MANGRES) 2010. Setelah bertemu dengan Bapak Lurah sebentar, untuk berdiskusi mengenai konsep MANGRES 2010, seperti hari-hari sebelumnya, begitu menginjakkan kaki kami di pesisirnya, rasa sedih selalu saja menerjang batin kami begitu tahu bahwa pesisir Trimulyo telah menjadi jurang-jurang kecil yang dalam. Jurang ini terjadi karena gerusan gelombang laut nan ganas. Konversi lahan mangrove menjadi areal pertambakan yang telah terjadi beberapa puluh tahun yang lalu, telah menyebabkan jalur hijau mangrove yang seharusnya ada menjadi sirna!

Lihatlah foto di atas ini. Tiga buah foto memperlihatkan kondisi pesisir Trimulyo Semarang, pada pukul 10.35 WIB, di saat air surut. Abrasi pantai yang kini telah menjadi jurang ini, terlihat jelas di foto kedua, atas-kanan. Tinggi jurangnya telah sama dengan tinggi kami. Untunglah, masyarakat Trimulyo telah memiliki kesadaran yang cukup, untuk mulai melakukan inisiasi penanaman mangrove di pesisirnya. Dengan cara bekerjasma dengan berbagai pihak seperti Dinas Pertanian, Dinas Kelautan dan Perikanan serta KeSEMaT, maka puluhan ribu bibit-mangrove, yang baru berumur kurang lebih dua tahunan, telah membentengi pesisirnya dari ancaman arus laut.

Semoga saja, dengan MANGRES 2010, yang selalu kami adakan setiap tahun, bisa semakin turut membantu untuk menyembuhkan pesisir Trimulyo dari sakitnya yang berkepanjangan, yang bila tidak dibantu, bisa saja berujung kepada kematiannya. Mari bersama, kita selamatkan pesisir Trimulyo, Semarang. Semangat MANGROVER!