Lekuk Tanakeke, Modal Tiga Kampung

Tanakeke – KeSEMaTWORDPRESS. Adalah Bapak Kamaruddin Azis, seorang Rekan kami di Facebook, yang telah membagikan cerita inspiratif perjalanannya menyusuri Tanakeke, sebuah pulau di Sulawesi. Cerita ini sangat menyentuh, dimana mampu mendeskripsikan dengan baik, mengenai kondisi masyarakat nelayan dan ekosistem mangrove yang ada di sana. Setelah meminta izin beliau agar cerita dan foto-foto hasil bidikannya bisa kami publikasikan di Jaringan KeSEMaTONLINE, maka kami persilahkan Anda untuk mencermati cerita mangrove beliau, di bawah ini. Semoga bisa memberikan pencerahan bagi kita semua akan kelestarian ekosistem mangrove kita, di masa mendatang.

Tanggal 14 Juni 2010, tepat pukul 10.00 WITA, jolor atau perahu kayu kecil bermesin dalam khas milik nelayan Makassar meninggalkan bahu sungai Takalar Lama. Perahu kecil warna kuning itu sarat penumpang. Kebanyakan ibu-ibu yang pulang berbelanja di pasar-pasar kota. Mereka hendak pulang ke perkampungan mereka di Kepulauan Tanakeke. Ada yang akan menuju Kampung Tompotana, Lantangpeo dan Cambaya.

Di atas jolor, delapan drum mengisi palka yang terbuka. Isinya solar dan minyak tanah. Para penumpang wanita telah duduk bersila di atas ruang kemudi. Mereka merapat satu sama lain. Saya memilih duduk di sisi kiri jolor yang bergerak seperti sebatang bambu di atas air, oleng kiri kanan.

Cuaca sedang teduh. Jolor meninggalkan muara sungai yang ditumbuhi pohon-pohon nipah dan bakau yang mulai langka. Kami lepas Kampung Lamangkia dan mengarah ke Kampung Tompotana. Di dekat muara, terpasang berkarung-karung penahan ombak.

Butuh waktu dua jam untuk kami sampai di beranda Kampung Tompotana yang masuk dalam wilayah administrasi Desa Maccini Baji. Sepertinya, kampung ini berada di bagian selatan gugus pulau Tanakeke.

Pulau Tanakeke sendiri dikenal sebagai pulau yang rawan bagi kapal-kapal pengangkut barang dari Selayar dan Flores. Beberapa dari mereka kerap terperangkap pada hamparan dasar perairan yang dangkal, apalagi saat ombak kencang. Beberapa kapal karam di sekitar Tanakeke terjadi pada musim barat. Mereka terseret arus kuat antara Selat Makassar dan Laut Flores.

Di atas jolor saya berkenalan Basri Daeng Rangka, warga desa Cambaya berumur 23 tahun. Dia mengaku kuliah di salah satu perguruan tinggi cabang di Takalar. Juga Bahar yang tinggal di Kampung Lantangpeo serta Muhammad Darwis yang tinggal di Kampung Tompotana.

Dari atas jolor, kami menyaksikan panorama yang mengagumkan di Tompotana, rumah warga warna warni, bagai parade kebebasan ekspresi jiwa warga pulau, hijau, merah, pink hingga oranye.

Di depan perkampungan, laut terlihat seperti kolam renang raksasa dengan kepala para perenang yang silih berganti muncul di permukan, itu adalah hamparan botol plasti air mineral yang digunakan sebagai pelampung dalam usaha budidaya rumput laut. Satu sumberdaya laut yang telah dimanfaatkan oleh warga setempat melanggengkan kehidupan ekonominya.

Di Tompotana, rumah yang semakin bertambah banyak dan mendekati daerah pantai dan gempuran ombak musim timur memaksa warga untuk mulai mempertahankan kampung mereka dengan membangun tanggul. Di sekitar kampung, vegetasi bakau masih terlihat padat dan menghijau. Kampung ini terlihat sebagai gabungan rumah yang dikelilingi pohon bakau dan air laut.

Perahu kami bersandar di tanggul penahan air laut. Satu persatu penumpang turun. Beberapa wanita sibuk mengangkut karung beras. Penumpang lainnya, yang juga perempuan membantu mengangkut beban berat seperti kompor, kardus makanan, dan sayur-sayuran. Ada pula yang membawa jerigen. Mereka membeli air di Takalar seharga Rp. 2.500 perjerigen ukuran 30 liter.

Kami tidak sampai sejam di Tompotana. Setelah itu, jemputan kami datang. Perahu yang lebih kecil kini siap mengantar kami ke kampung lainnya, Lattangpeo (dalam bahasa Indonesia artinya, lumpur dalam). Bersama Rahman Ramlan, Nurlinda, Salma Daeng Sayang, Iwan, Basri Daeng Rangka, Muhammad Darwis, Bahar dan dua warga, kami pun melaju.

Air laut tenang, kami menyusuri laut yang telah dipatok untuk lokasi budidaya rumput laut.

Perahu kami mengayun kiri kanan, melewati hamparan budidaya. Di dekat kami bakau jenis Rhizophora membatasi jarak pandang. Perahu meluncur pada lorong jalan laut. Kiri kanan bakau. Jarak jalan kami, lebarnya tidak lebih tujuh meter. Sangat mengkhawatirkan saat ada jolor dari depan, kami mesti berhati-hati. Hempasan air dari kecipak perahu menggoyang perahu kami dengan kuat.

Laut yang telah dikapling, bakau yang telah dibabat untuk lokasi budidaya merupakan pemandangan saat memasuki kawasan dalam pulau-pulau Tanakeke.

Siang, kami sampai di Kampung Lantangpeo. Beberapa warga telah menunggu di tengah kampung yang warganya tidak lebih dua ratus jiwa ini. Beberapa gundukan potongan kayu dan kulit kayu dapat ditemui di kampung ini. Warga masih mengambil pohon bakau untuk bahan kayu bakar dan patok bagi usaha budidaya rumput laut mereka.

Pada beberapa rumah terlihat tumpukan kayu bakau yang telah mengering. Tingginya lebih semeter. Kayu bakar bakau memang sangat digemari. Baik oleh ibu rumahtangga maupun para pengelola warung makan, seperti usaha menu ikan bakar.

“Kampung ini dulunya lumpur saja, kakek nenek kami membangunnya dengan menimbung pohon-pohon bakau”, kata Kepala Dusun Lantangpeo. Dia pulalah yang menunjukkan ke kami contoh bagaimana membangun gundukan tanah dengan menempatkan kayu sebagai penyusunnya. Seperti yang terlihat di barat pulau.

Dahulu, beberapa warga berinisiatif mendatangkan excavator atau back hoe untuk menggali dan merapikan vegetasi bakau dengan membuka lahan tambak. “Belasan tahun lalu, kami pernah buka tambak. Namun tidak lama bertahan karena pematangnya rusak”, kata Pak Dusun.

Pak Dusun pula yang mengantar saya menuju salah satu penelitian penangkaran kuda laut yang di barat kampung. Di sana ada beberapa petak kolam kecil berisi kuda laut. “Ini penelitian oleh dosen dari UNHAS”, katanya. Kuda laut memang sangat mudah dijumpai di perairan Tanakeke. Hewan laut istimewa ini konon dapat digunakan sebagai suplemen makanan penambah vitalitas pria.

Hampir tiga jam kami di Lantangpeo. Sore hari, kami pun meneruskan perjalanan ke Kampung Cambaya. Kami pamit pada Pak Dusun, Bahar dan warga setempat yang mengantar kami sampai di dermaga.

Cambaya, adalah kampung Basri Daeng Rangka. Basri pulalah yang mengantar kami kala itu. Kami melalui jalur yang sama. Melewati lekuk-lekuk kampung, pulau dan jalan perahu yang sempit antara pohon bakau, hamparan lokasi budidaya rumput laut.

Di atas Tanakeke mendung menghadang. Kami terus bergerak. Pemandangan kampung Lantangpeo dan Tompotana dalam balutan langit gelap terlihat misterius. Warna-warna terang rumah terlihat samar. Kamera yang saya siapkan sedari tadi, nyaris tak berfungsi samasekali. Beberapa burung bangau terbang jauh dari atas pucuk bakau. Luput dari rekaman.

Saat sampai di perairan Kampung Cambaya, surut menjemput. Perahu kami mesti perlahan untuk menembus jalur terdekat. Pepohonan bakau di sini juga masih terlihat padat. Namun dari kejauhan bekas tebangan terlihat masih baru.

Kami pun mendarat di Cambaya dengan terlebih dahulu membalut kaki celana. Perahu tidak bisa merapat ke pantai. Dalam hitungan menit kami pun sampai di rumah Basri.

“Kampung ini kampung yang tenang, masih sangat asri,” kata Linda. Kampung yang terasa nyaman karena berada di timur pulau. Di sana, matahari terbit di atas daun-daun bakau. “Saat musim timur, angin yang berhembus di antara pohon bakau sungguh mengasikkan,” kata Linda lagi.

Bukan hanya potensi hutan bakau, di Cambaya terlihat jelas bahwa potensi rajungan (kepiting terbang) merupakan modal usaha yang terbilang tinggi dan ekonomis. Banyak warga di sini yang memanfaatkan pukat untuk menangkap kepiting rajungan. “Selain potensi rumput laut, Kampung ini bertahan dari pemanfaatan hasil laut seperti rajungan. Kampung kami bertahan dari modal sumberdaya alam laut”, kata Basri.

Ancaman terbesar kampung ini adalah semakin berkurangnya pohon bakau karena penebangan. “Walau beberapa warga berinisiatif menanam pohon bakau, namun ada warga yang masih menebangnya untuk menjual arangnya ke Makassar,” kata Rahman, salah seorang aktivis peduli Tanakeke yang menemani saya selama perjalanan.

Kunjungan kami ke tiga kampung itu hanya sampai pukul 17.00 WITA. Setelah itu, kami mesti mendorong jolor untuk kemudian kami tumpangi lagi ke Takalar Lama. (Makassar, 29 Juni 2010).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s