Struktur Komunitas Krustasea di Kawasan Mangrove Klaces dan Sapuregel Segara Anakan Cilacap

Bambang Gunawan. Struktur Komunitas Krustasea di Kawasan Mangrove Klaces dan Sapuregel Segara Anakan Cilacap.

Kondisi perairan Segara Anakan Cilacap, dari tahun ke tahun mengalami penyempitan dan pendangkalan karena adanya tingkat sedimentasi yang tinggi. Tingginya laju sedimentasi dikarenakan adanya suplai material terlarut dari sungai yang banyak bermuara di kawasan Segara Anakan. Semakin meningkatnya aktivitas manusia di daerah sekitar hutan mangrove seperti pertanian, pertambakan, pemukiman, dan industri akan memberikan dampak terhadap keseimbangan ekosistem di kawasan Segara Anakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui struktur komunitas krustasea di kawasan mangrove Klaces yang mewakili kondisi hutan mangrove yang dipengaruhi oleh tingkat sedimentasi yang tinggi dan relative terganggu oleh aktivitas manusia, serta kawasan mangrove Sapuregel yang mewakili kondisi hutan mangrove dengan tingkat sedimentasi yang rendah dan relative masih alami sebagai lokasi pembanding.

Metode penelitian yang digunakan adalah survey contoh (sampling survey method) dengan metode penulisan studi kasus. Metode pengambilan sampel menggunakan sampling acak terstratifikasi (stratified random sampling). Penelitian dilakukan pada bulan Mei – Agustus 2002. Pengambilan sampel krustasea dilakukan dengan teknik hand picking menggunakan transek 5 m x 5 m. Sampel yang didapat kemudian diawetkan dengan alkohol 70% untuk diidentifikasi, diukur panjang dan lebar karapasnya, dan diamati secara morfologi jenis kelamin, perkembangan gonad, serta moulting atau tidak.

Hasil penelitian di lokasi Klaces ditemukan 9 famili krustasea yang terdiri dari 44 spesies dari total 1.496 individu sedangkan untuk lokasi Sapuregel ditemukan 9 famili yang terdiri dari 45 spesies dari total 2.175 individu. Lokasi Klaces memiliki kelimpahan rata-rata (A) 3,74 individu/m2 dan kisaran frekuensi kehadiran (Fr) 8,25 – 100% sedangkan Sapuregel memiliki kelimpahan rata-rata (A) 4,83 individu/100 m2 dan kisaran frekuensi kehadiran (Fr) 5,56 – 83,33%. Indeks keanekaragaman Klaces relatif lebih rendah dibandingkan dengan lokasi Sapuregel yaitu 1,93 dengan 1,97 tetapi inderks keseragaman dan dominansinya relatif lebih tinggi yaitu 0,57 dan 0,32 dengan 0,44 dan 0,42. Ukuran rata-rata individu di lokasi Sapuregel lebih besar dibandingkan dengan ukuran rata-rata individu di lokasi Klaces. Persentase jantan di Klaces lebih besar daripada di Sapuregel yaitu 60,6% dengan 46,8% sedangkan untuk betina lebih besar di Sapuregel yaitu 39,4% dengan 49,2%. Persentase individu bertelur di Sapuregel lebih besar daripada di Klaces yaitu 17,1% dengan 21,4%, sedangkan persentase moulting di Klaces lebih besar daripada di Sapuregel yaitu 0,9% dengan 0,3%.

Kata kunci: krustasea, komunitas, morfologi, perkembangan gonad, moulting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s